Mommies Daily Mommies Info Mommies News Parenting

Transvestisme Pada Crosshijabers. Cegah dengan 5 Hal Ini Sejak Dini

Mommies, beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan berita tentang crosshijabers. Seperti pada artikel mommiesharing sebelumnya, crosshijabers yaitu para pria yang senang mengenakan busana muslimah, lengkap dengan cadar ataupun hijab.

Meskipun mereka melakukannya tanpa ada keinginan menyimpang terhadap orientasi seksualnya, ternyata crosshijabers termasuk salah satu jenis gangguan jiwa, mommies. Menurut buku rujukan ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5, fenomena crosshijabers masuk dalam kategori gangguan identitas atau preferensi seksual yaitu Transvestisme peran ganda.

Gejala dari gangguan ini adalah mereka mengenakan pakaian dari lawan jenisnya sebagai bagian dari eksistensi diri untuk menikmati sejenak pengalaman sebagai anggota lawan jenis, tidak memiliki hasrat untuk mengubah jenis kelamin secara permanen dan tidak ada perangsangan seksual yang menyertainya.

Para psikolog klinis menyatakan bahwa crosshijabers berasal dari Crossdressing yang berarti aksi mengenakan busana yang tidak sesuai jenis kelamin bawaan lahir. Istilah ini tidak sama dengan transgender. Terdapat tujuan yang bermacam-macam yaitu penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan atau ekspresi diri, sampai pada mendapatkan kesenangan seksual. Pelaku Transvestisme peran ganda ini memiliki riwayat individu yang tidak nyaman dengan identitas seksualnya karena trauma masa lalu, sehingga kemungkinan merasa nyaman jika menggunakan busana gender sebaliknya.

Sebagai usaha pencegahan bagi kita sebagai orang tua, ada baiknya kita melakukan hal-hal ini yang diharapkan agar anak-anak terlindungi dari hal-hal yang kemungkinan menyebabkan trauma di lingkungannya, yaitu:

1. Mengajarkan pendidikan seks sejak kecil
Pendidikan seks ini bukan semata-mata “berhubungan badan” ya, mommies. Bisa dengan memperkenalkan bahwa kakak dan adik berbeda, atau ayah dan ibu berbeda. Perkenalkan peran yang akan diemban ketika dewasa kelak yang berkenaan dengan perbedaan fungsi gender tersebut. Ajarkan bagaimana seharusnya anak bersikap sesuai dengan gendernya dan bisa juga dikaitkan dengan agama dari yang kita anut, misalnya “besok adik (laki-laki) kalau sudah besar, nanti pakai sarung, peci, sorban atau jubah. Kalau kakak (perempuan) besok pakai jilbab, cadar atau hijab”. Perkenalkan juga pekerjaan yang tidak masalah jika dilakukan oleh kedua gender.

2. Perluas wawasan mommies.
Ilmu pengetahuan selalu berkembang dan tidak cukup hanya dengan sekali belajar. Jangan sungkan untuk mengikuti seminar ataupun bertanya kepada orang yang dianggap lebih paham ya, mommies.

3. Perhatikan lingkungan sekitar anak.
Kenali teman-teman dari anak kita, sahabatnya, pola pikirnya, orang tuanya, hobinya kalau memungkinkan. Karena tidak ada yang tahu, jika teman dari anak kita akan memperkenalkan hobinya atau mengajarkan hal-hal yang dipahami, padahal hal itu bertentangan dengan norma agama ataupun norma masyarakat. Dengan mengenali teman-teman anak, diharapkan kita bisa memperingatkan anak kita agar lebih selektif dalam berteman.

4. Menjadi sahabat bagi anak.
Poin ini juga menjadi sangat penting untuk membentengi anak dalam meminimalisir bibit trauma. Jika orang tua bukanlah tempat yang nyaman bagi anak untuk berbagi, maka anak akan beralih kepada teman-temannya sebagai tempat bercerita dan sosok yang harus dipanuti. Jangan salahkan anak jika mereka lebih mengikuti atau curhat permasalahan kepada teman mereka karena kurang nyamannya kita sebagai orang tuanya.

5. Berkonsultasi dengan profesional.
Segera konsultasikan segala keanehan yang terjadi pada diri anak kita kepada profesional. Amati secara objektif perilaku anak kita, catat dan konsultasikan. Tetap tenang dan ikuti sarannya. Pun jika ternyata kita sendiri memiliki kecenderungan demikian (tidak menutup kemungkinan), jujurlah dengan diri sendiri dan segera konsultasikan, agar anak-anak kita tidak mengikuti langkah kita.

Apabila transvestisme peran ganda masih dalam tingkatan fashion yang dikenal dengan fesyen androginus, maka hal itu masih bisa diterima. Misalnya Harry Styles, salah satu anggota dari One Diretcion. Dia seringkali kedapatan melakukan crossdressing. Salah satunya yaitu menggunakan jumpsuit hitam wanita dengan aksesoris anting mutiara di telinga kanan pada acara ajang Met Gala 2019.

 

Sumber bacaan:

Sumber gambar:

Maulia Nur Adrianisah

Saya seorang wanita yg bangga memiliki profesi utama menjadi ibu rumah tangga. Juga seorang istri dari sesosok laki-laki yg senang mengajar dan menulis. Namun lebih terlihat cahayanya ketika menulis, lalu tanpa disadari saya pun mengikuti jejaknya. Semoga apapun yg kami tuliskan, bermanfaat bagi banyak orang, khususnya kami sendiri sebagai manusia yg masih perlu banyak belajar.
Follow Me:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *