Kuliah Whatsapp

Tetap Tenang Menanti Sang Buah Hati – Resume Kulwapp#10 Mommiesharing

BIODATA NARASUMBER

  • Nama: Gita Aulia Nurani, M.psi.,Psikolog
  • Profesi : Konselor dan Psikolog
  • Domisili: Yogyakarta

Biografi Singkat:

Lulus dari S2 Magister Psikologi Profesi UGM lalu bekerja sebagai Talent Development Manager di ECC UGM (4 tahun). Selain bekerja, juga aktif mengisi rubrik parenting di hari Minggu Radar Jogja.


MATERI PENGANTAR DARI NARASUMBER

Kesabaran dibalik penantian

Pasangan yang baru beberapa bulan menikah, biasanya masih menikmati masa kehidupan baru. Namun berbeda situasinya ketika sudah memasuki tahun pertama hingga tahun berikutnya dan belum kunjung hamil. Tidak jarang pasangan suami istri yang sembari mengikuti program kehamilan, rutin konsultasi ke dokter, hingga mengikuti anjuran orang tua dengan harapan segera hamil. Jadi, sebenarnya apa yang perlu dilakukan supaya tetap tenang dalam masa penantian buah hati?

Apa yang perlu dilakukan jika tak kunjung hamil? Jika sudah memasuki usia 1 tahun dan belum pernah hamil sama sekali, maka pasangan suami istri sangat disarankan untuk konsultasi ke dokter. Atur kondisi stres. Semakin stres, maka semakin tidak tenang seorang calon ibu dalam menanti buah hati. Loh, stres kok diatur? Maksudnya apa? Tenang bunda, yuk kita ngobrol lebih jauh tentang pengaruh stres pada kehamilan 🙂

 

Pengaruh Stres pada Calon Ibu

  • Penelitian Oxford University:
  • pada wanita yang stres, peluang terjadinya pembuahan di masa subur turun 12%
  • The Ohio State University Wexner Medical Center
  • 29% wanita yang tanpa menyadari dirinya stres, memiliki kesempatan hamil lebih kecil

 

Stres dari sisi psikologi

Ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang Dapat berdampak pada perilaku, kestabilan emosi, hingga kondisi fisik lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki.

Pemicu Stres Calon Ibu

  1. Kondisi sosial: Pertanyaan “Kapan punya anak?”; “Udah hamil belum?”; “Kok belum isi juga sih?”
  2. Kondisi internal: Menyalahkan diri sendiri karena tidak kunjung hamil; memikirkan persoalan rumah tangga sendiri
  3. Kondisi lingkungan:Tekanan kerja yang berat; Rekan seusia atau tetangga mayoritas sudah memiliki anak

 

Its not stress that kills us, it is our reaction to it.

Bukan stres yang membuat terpuruk, melainkan reaksi kita padanya.

(Hans Selye)

 

Menghadapi pertanyaan “Kapan punya anak?”

Jangan buru-buru nge-gas dulu ya buibu ketika mendapat pertanyaan ini, hehe. Sayangnya, hasil penelitian sosial menyatakan mayoritas yang bertanya justru ORANG TERDEKAT seperti orang tua atau mertua, saudara, budhe, tante, tetangga, bahkan rekan satu komunitas. Saat mendapat pertanyaan semacam ini, yang perlu calon ibu lakukan adalah BERSIKAP TEGAS terutama pada diri sendiri.

Maksudnya adalah tegas tidak membiarkan kata-kata tersebut mengganggu pikiran sehari-hari.  Tegas berfokus pada proses dan usaha mendapatkan buah hati Tegas menguatkan diri dengan kata-kata positif dan yakin suatu hari akan positif hamil.

Mengapa? Karena komunikasi yang positif dengan suami ternyata dapat membawa perasaan tenang dan bahagia yang berkelanjutan pada diri calon ibu. Berbagi pikiran juga membuat ibu lebih bisa fokus menyiapkan diri dan mental menyambut datangnya buah hati. Dan.. Bentuk komunikasi intens dengan suami

 


SESI TANYA JAWAB

  1. Nama : Diny Noviany – Domisili : Serang

Pertanyaan :

Bagaimana mengelola emosi saat menghadapi program hamil sementara tekanan asalnya dari pasangan sendiri.

Lingkungan sekitar saya semua mendukung, termasuk ibu mertua, hanya saja suami memberi tekanan, meskipun sudah diberi tahu bahwa jika saya tertekan akan menyebabkan saya semakin sulit hamil, tapi suami tetap saja memberi tekanan secara psikis.

JAWABAN

Dukungan dari pasangan memang menjadi prioritas dalam menjalankan program hamil. Jika pasangan tidak support, tentu hal ini akan menimbulkan ketegangan psikis bagi calon ibu. Perlu kesadaran dua belah pihak bahwa program hamil bukanlah tanggung jawab salah satu pihak saja. Kan tidak mungkin bikin sendiri ya mom, hihi.

Ada dua kunci dalam hal ini: keterbukaan dan komunikasikan.

Jika mommi tidak merasa mendapat dukungan, sempatkan waktu berdua untuk membicarakan hal ini dengan serius. Terbuka dengan segala yang mommi rasakan dan sampaikan juga keinginan mommi. Namun apabila suami tetap belum mendukung, maka tidak ada salahnya jika membutuhkan pihak ketiga yang berkompeten, semisal dokter obgyn. Saat berkonsultasi, ajak pula suami dan tanya sebanyak mungkin pada dokter agar suami pun lebih memahami kondisi mommi. Biasanya dengan menghadirkan pihak ketiga yang kompeten, orang akan lebih percaya dan akhirnya berbalik sikap menjadi mendukung aktivitas mommies.

 

  1. Nama : Dewi Ratnasari – Domisili : Jakarta

Pertanyaan :

Bagaimana cara menata hati agar tidak sakit hati dengan omongan orang-orang tentang telatnya mempunyai buah hati dan juga yang mengatakan kita dan pasangan yang tidak subur? (Padahal mereka tidak tau yang sebenarnya tapi mereka bertanya dan mempunyai pikiran seperti itu)

JAWABAN:

Moms, omongan orang lain kadang memang lebih menyakitkan dan terdengar lebih sibuk membicarakan kita ya, hehe.

Namun sayangnya, mereka hanya membicarakan dari kulitnya saja. Apapun tentang kondisi pasangan, kita dan suami yang lebih paham bukan? Sangat disayangkan jika pembicaraan yang dari kulitnya itu ternyata justru lebih mendominasi pikiran kita.

Nah ditahap ini kita memang perlu tegas pada diri sendiri. Tegas untuk tidak membiarkan perkataan tersebut mengganggu pikiran kita. Salah satu cara agar bisa tegas dan tidak terpengaruh dari luar adalah penuhi pikiran dengan hal positif tentang keluarga (terutama pasangan). Jika mommi sudah dipenuhi dengan rasa cinta dan sayang dari suami, percaya deh maka kata-kata dari orang luar akan sulit menembus pikiran kita. Plus sibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan diri kita sebagai calon ibu, misal banyak membaca informasi tentang parenting. Dampaknya kita jadi tau lebih banyak, omongan orang lain pun terhempas.

TANGGAPAN:

Terimakasih MomGit atas penjelasannya.

 

  1. Nama : tifa – Domisili : jaktim

Pertanyaan:

  1. Apakah stress dan kelelahan dalam pekerjaan mempengaruhi kehamilan?

(Dulu saya sempat resign dari tempat kerja tapi yang ada malah jadi bosan dan stress karena tidak ada kegiatan. Ditambah saya tidak suka masak. Tapi sekarang saya kerja sebagai guru fulltime di SMA swasta, banyak aktivitas dan kadang ada masalah yang membuat saya stress)

  1. Bagaimana cara mengatasi pemikiran negatif misalnya ada ketakutan saat nanti memiliki anak apakah bisa mengurus dan merawat dengan baik?

karena posisi saya merantau dan saya tidak begitu dekat dengan ibu mertua. Ibu kandung saya pun telah wafat sejak saya masih kecil.

JAWABAN:

(1) Stres terutama yang berasal dari tempat kerja secara ilmiah memang terbukti dapat mempengaruhi kehamilan mom. Terlebih jika sumber stres tsb hampir kita temui setiap hari. Perlu pengelolaan stress apabila kita memang sering berjumpa dengan sumber stress. Jadi, usahakan untuk menghindari sumber stress ya mom.

 (2) Istilah psikologi mengenal overthinking, yang artinya terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan sayangnya apa yang dipikirkan justru seringkali tidak benar-benar terjadi mom, hehe. Cara menanggulanginya, setiap kali pikiran itu muncul coba deh langsung dikroscek kebenarannya. Jika takut mengurus anak, mommi bisa mengidentifikasi sumber daya apa yang dimiliki untuk mengatasi hal tersebut.

Contoh sumber daya itu misalnya: bisa mencari informasi tentang parenting di website, punya suami yang mendukung istri, saudara yang sangat support, dsb. Jika kita bisa mengidentifikasi kelebihan, maka hal itu akan jadi ‘lawan’ setiap kali pikiran negatif muncul. Jadi, sebenarnya seringkali ketakutan yang muncul dipikiran adalah ‘setan’ yang mengganggu tujuan kita.

Coba deh mom, rela tidak semisal kita udah punya target tapi jadi tidak terlaksana karena rasa takut yang belum tentu terjadi? Padahal siapa tahu jika kita fokus pada target, ketakutan tadi justru tidak muncul sama sekali. Terkadang, yang membuat kita berhenti melangkah adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

TANGGAPAN:

Masya Allah. Terima kasih banyk ya momGit atas penjelasannya yang gamblang.

Saya makin mantab untuk resign atau mencari pekerjaan lain yang tida terlalu melelahkan dan mengisi keluangan waktu dengan mencari info seputar parenting atau yang sejenisnya.

 

  1. Nama : maulia nur a – Domisili : klaten

Pertanyaan :

Apakah menunggu kehadiran buah hati dengan prinsip “mengalir saja” itu tepat?

Karena sebelum program hamil ini, saya pernah sempat isi 10 minggu, tapi karena BO, saya pun kuret, itu Alhamdulillah saya sempat isi karena saya dan suami memegang prinsip “mengalir saja”, yang sebelumnya, kami sangat ngoyo ingin punya anak.

Saat ini, kami kembali melakukan program, dan sepertinya takut muncul hawa “ngoyo”..

Manakah yang lebih baik untuk dianut ya, mom?

JAWABAN:

Prinsip mengalir saja punya beberapa kelebihan mom, yaitu bisa meminimalisir stress atau tekanan yang terkadang muncul saat menanti buah hati.

Tapi sebaliknya, hal ini juga bisa membuat kita terlalu santai, hehe.

Yang lebih disarankan adalah menerapkan prinsip ‘mengalir dengan target’, ya walau kehadiran buah hati tetap menjadi takdir yang kita pun tidak mengetahuinya tapi tetep bisa ditarget kok mom.

Contohnya,

Target 1: memahami kondisi diri ketika subur sehingga bisa ‘ehem’ dengan suami diwaktu yang tepat,

Target 2: memperbaiki pola hidup

Target 3: jika dalam waktu 1 tahun kedepan belum ada tanda positif hamil maka jadwalkan untuk program hamil, dsb. Prinsip mengalir dengan target ini sangat membantu kita yang punya keinginan tapi tetep on the track alias lurus dijalannya. Jadi, mengalirnya itu terarah mom. Kalau mengalir seperti air yang sebenarnya kan kita tidak tahu muaranya akan kemana. Syukur kalau ke laut yang jernih, tapi kalau ternyata mengalirnya ke tempat yang tidak diinginkan ya tidak mau juga mom..hehe

Oiya, penyusunan target ini dibuat berdua sama pasangan ya, jangan buat target sendiri-sendiri, nanti malah jadi tidak sama prioritas yang ingin dicapai.

TANGGAPAN:

Alhamdulillah… Terimakasih momgit atas pencerahannya…

Memang harus ada target untuk suatu cita-cita.

Mohon doanya ya, mom, semoga semuanya diberikan jalan yang terbaik.

 

  1. Nama : Aprilia Tika – Domisili : Sidoarjo

Pertanyaan :

Bagaimana caranya kita memberi informasi atau saran tentang promil kepada teman yang sedang menanti buah hati tanpa melukai perasaannya?

JAWABAN:

Jika takut melukai perasaan teman, memberi informasi tentang promil bisa diberikan dengan menimbang 2 hal:

*waktu dan jenis informasi.*

Berikan info pada waktu yang santai, saat sedang hang out berdua; saat tidak sedang sama-sama lelah; atau saat sedang moodnya sama-sama bagus. Jadi tidak mudah nge-gas kalau ngobrol hal yang sensitif.

 Dan kedua, jenis informasinya bisa melalui share berita/info dari sumber website yang terpercaya. Atau bisa juga dengan cara tidak langsung, semisal “eh, si A udah hamil lho setelah sekian tahun karena ikut promil di dokter X. Katanya promil itu baik untuk yang sudah 1 tahun menikah atau diatas itu tapi belum punya buah hati. Gimana menurutmu?”

Dengan tipe pemberian informasi diskusi begitu, biasanya orang akan lebih mudah menerima karena tidak merasa digurui. Jadi libatkan teman dalam informasi yang diberikan.

Kalau hanya memberi saran, tanpa mendengarkan pendapat bisa bahaya mom. Kita kan tidak tahu pasti apa yang sedang dialami oleh teman kita. Malah jadinya nanti dicap sok tahu. Dengan diskusi dan minta pendapat, justru teman kita bisa lebih terbuka dan mau menerima informasi yang diberikan.

 

  1. Nama : Pratiwi – Domisili : Surabaya

Pertanyaan :

kegiatan apa yang bisa dilakukan calon ibu / calon bapak untuk mengurangi stress?

Terkadang bingung untuk mengatur waktu karena sama-sama bekerja dimana susah sekali untuk ijin kerja pada pimpinan.

JAWABAN:

Posisi suami dan istri yang sama-sama kerja memang agak tricky ya mom. Tapi bukan berarti tidak bisa santai.

Sebenarnya tidak perlu kegiatan yang mengharuskan keluar kota/wisata tetapi bisa juga hanya dirumah dan menjadwalkan nonton film favorit bersama (dengan setting pop corn & gelap mirip di bioskop), memasak bersama dari resep di internet, atau berolahraga pagi bersama.

Jika tetap ingin keluar, maka calon ibu dan ayah bisa menyewa hotel/penginapan yang satu kota dengan rumah dan tinggallah selama minimal 1 malam. Hawa diluar rumah 1 malam saja sebenarnya sudah cukup membuat fresh lho. Jadi waktu kerja tidak terganggu, tapi suami dan istri tetap bisa merasa seperti liburan.

Dan satu lagi, saat weekend usahakan untuk minimalisir HP agar tidak terganggu dengan chat/email dari kantor. Buat komitmen dengan pasangan bahwa waktunya weekend adalah waktu khusus berdua, tanpa ada gangguan. Dari hasil penelitian terbaru, ternyata HP itu memegang penyumbang stres nomor 1 loh mom 😳.

Terutama buat suami dan istri yang bekerja, karena semua hal terkait pekerjaan biasanya bersumber di HP. Batasi waktu penggunaan gadget saat sepulang kerja ya moms. Kalau suami hobi main game, nah hem.. yuk diajak diskusi tentang waktu suami dan istri agar tidak disabotase oleh gadget.

TANGGAPAN:

Oke momgit…Terima kasih sarannya…Akan kami coba🙏🏼😍.

 

  1. Nama : Indah – Domisili : Balikpapan

Pertanyaan :

Saya indah 28 tahun – ibu rumah tangga, menikah 3,5tahun. Saya dan suami LDM, suami kerja di lokasi pengeboran, dengan jadwal 2 minggu kerja 1 minggu libur. Susah sekali bertemu ketika masa subur, dan suami sepertinya kondisi lelah juga ketika pulang. Untuk saya menyusul ke lokasi kerja sangat tidak memungkinkan. Kadang saya stress menghadapi ini. Tolong sarannya momgit.

JAWABAN:

Nah, lokasi kerja suami nun jauh disana jadi tantangan tersendiri mom untuk promil. Secara ilmu, sebenarnya siklus kemungkinan untuk hamil itu bisa terjadi kapanpun selama bukan pada masa haid. Masa subur memang penting karena itu memperbesar peluang hamil, tapi bukan satu-satunya harapan mom. Banyak kasus yang justru hamil di masa-masa akhir menjelang menstruasi.

Tapi memang jika diluar masa subur, peluang untuk hamil sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis mommi. Jadi kalau ketemu hanya 1 minggu tapi kondisi sedang sama-sama stres, itu akan mempengaruhi promil.

Sarannya mom, (1) fisik mommi tetap perlu disiapkan dengan menjaga pola makan dan olahraga. Jadi ketika suami sedang pulang dan ada jadwal kunjung ‘ehem’ fisik mommi sudah siap walaupun tidak sedang masa subur.

(2) untuk mengurangi stres satu sama lain. Coba deh sempatkan waktu diluar rumah sejenak selama suami libur. Fokus pada kebutuhan suami dan pemenuhan hak istri selama calon ayah dan ibu sama2 dirumah .

 

  1. Nama: atika – Domisili: semarang

Pertanyaan:

Bagaimana cara mensupport suami dalam promil (karena permasalahan ada di suami) dan mengajak untuk rutin ke dokter tanpa menyakiti hati pasangan? Mengingat kesibukan suami yang sangat sibuk. Terimakasih.

JAWABAN:

Pertanyaan ini bagus sekali mom karena terkadang bagian tersulit justru ‘menyadarkan’ suami. Sebenarnya secara psikis, laki-laki itu enggan diperintah dan bergerak melalui keinginan sendiri. Tapi kita bisa ciptakan kondisi itu kok mom. Jd semacam menghipnotis gitu ya. Kuncinya di komunikasi positif dan dua arah ya mom. Jgn langsung minta suami ke dokter atau malah diam-diam awalnya bilang minta anter belanja tapi ternyata malah belok ke dokter ya moms..hihi

Coba ajak ngobrol pelan-pelan dan gali pandangan suami tentang anak. Seberapa ingin dia punya buah hati? Kalau ternyata pengen banget, gali lagi. Apa ya sayang (ciee) yang bsa kita lakukan supaya cepet hamil? Plus beri informasi terkait pentingnya konsultasi ke dokter untuk para suami dan istri (nah yang ini moms perlu mencari referensi dari internet). Sebenernya otak laki-laki memang tercipta dengan banyak logika, jadi ketika moms ingin meminta suami melakukan sesuatu, jabarkan pula dengan cara yang bisa diterima logika. Ada buktinya seperti itu. Agak ribet dan beda ya sama kita yg banyak pakai perasaan..hihi. Selamat mencoba ya moms!

 

  1. Nama :Tiwi – Domisili : Sidoarjo

Pertanyaan :

bagaimana cara meyakinkan ke keluarga besar (ayah, ibu, mertua dan suami) kalau saya ini bisa hamil dengan keadaan sehat lagi? FYI, dikehamilan kedua, saya kehilangan putri saya karena hipertensi dan keluarga besar  trauma berat jika saya hamil lagi. Sementara saya masih ingin punya momongan lagi.

JAWABAN:

Moms, kehilangan putri pasti bukan kondisi yang mudah dihadapi. Semoga mommi tetap semangat ya

Meyakinkan orang terdekat terkadang justru terasa lebih susah dibanding meyakinkan teman/orang lain..hiks

Tapi bukan berarti tidak mungkin. Karena pada dasarnya yang ingin dilihat oleh orang terdekat adalah usaha mommi untuk bisa hamil lagi.

Buktikan bahwa mommi memiliki pola makan dan pola hidup yang lebih baik dibanding sebelumnya (jika problem sebelumnya karena hipertensi, maka faktor fisik menjadi prioritas).

Caranya bagaimana? Saat sedang berkumpul dan makan dengan keluarga besar, jika ada jenis makanan yang mommi hindari untuk menjaga kesehatan, maka tegas hindari.

Ini sebagai langkah nyata mommi untuk bisa mempersiapkan fisik demi buah hati.

Berikutnya, yang terpenting adalah jangan sampai mommi dan suami kehilangan rasa percaya diri. Yakinlah bahwa ada skenario terbaik yang akan datang. Rasa kehilangan yang lalu akan menjadi bahagia dengan datangnya buah hati kembali.

Sejak awal saya sering bilang tentang rasa yakin dan percaya ya..hehe. Tapi memang itulah kunci utama calon ibu dan ayah. Karena jika salah satu sudah kehilangan rasa percaya, ibaratnya usaha yang dilakukan pun hanya setengah. Dan itu akan terasa berat di satu pihak.

 

  1. Nama: susi – Domisili: Jakarta

Pertanyaan:

usia pernikahan sudah 6 tahun, masih susah move on dari teman-teman yang baru nikah tapi sudah langsung hamil. Sudah bolak balik ke dokter 3 tahun, berobat alternatif 2 tahun dan semuanya belum ada hasil. Sedih, sudah tidak tahu lagi harus berbuat bagaimana untuk usaha, karena suami juga sudah mulai susah diajak program ke dokter.

JAWABAN:

Moms.. Dengan segala usaha yang sudah dilakukan tapi belum berhasil, muncul rasa lelah itu sesuatu hal yg wajar 😔. Tapi jangan sampai lelahnya berubah jadi berkelanjutan alias akut ya mom.

Ada salah satu hasil penelitian yang menyebutkan bahwa penyebab sulit hamil diantaranya adalah terlalu sering memikirkan harus hamil dalam waktu dekat, karena akan berdampak ke stres pikiran mom.

Pasangan yang baru menikah dan hamil dalam waktu cepat dianalisis kondisi psikisnya sampai pada 1 kesimpulan: salah satu faktor yang membuat cepat hamil adalah perasaan bahagia dan tenang satu sama lain.

Tidak ada pikiran “harus” punya anak dalam waktu dekat, saat ‘ehem’ pun mereka melakukannya secara happy. Dengan niat membahagiakan satu sama lain.

Dari hasil penelitian itu saya belajar mom, bahwa pikiran bahagia dan tenang itu sangat dibutuhkan setiap pasangan yang ingin memiliki buah hati. Mungkin terkadang kita tidak menyadari, justru pikiran kita sndiri pula yang menghambat keinginan.

 

  1. Nama: wiwik – Domisili: pekanbaru

Pertanyaan:

kenapa ya mom, saya ini orangnya gampang sekali stress nya. Dan sampai kebawa pikiran. Mau pingsan pun bisa gitu mom? Saya sudah telat 9 hari,  semalam di cek dokternya bilang peranakannya membesar tapi kantong janin belum kelihatan. Jadi stress lah saya, sampai siang tadi itu tiba-tiba bagian miss V saya keluar mens tapi warna coklat.

JAWABAN:

Moms.. stres itu kadang memang datang tak dijemput, pulang tak diantar *lho kok malah horror. Tapi jangan salah, kita bisa block kok si stres itu. Tali karena stres mommi sudah mulai merambah ke fisik, maka saya beri masukan yang sedikit berbeda ya. Moms, pernah dengar istilah relaksasi?

Untuk jenis stres yang sudah merambah ke fisik, relaksasi ini penting sekali dilakukan.

Tapi bukan berarti harus meditasi atau mendengarkan suara hujan dalam keheningan supaya tenang, hihi.

Cukup dengan mengatur nafas dan memasukkan banyak kalimat positif.

Setiap kali mommi mulai terganggu dengan banyaknya pikiran di kepala, diam. Hentikan kegiatan apapun yang sedang dilakukan, duduk tenang. Ambil nafas dalam lalu keluarkan secara perlahan dan lakukan selama kurang lebih 3 menit.

Sambil bernafas, masukkan kata-kata positif ya moms seperti “aku sehat”, “kuat”, “bisa”, “tidak apa-apa”, dsb.

Pikiran kita itu punya kekuatan yg jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Maka tidak heran kalau kita sering ketakutan sendiri misal “duh, kalau nanti flek bnyak gimana ya” “kalau nanti hamil kuat nggak ya”, kata-kata itu bisa jadi boomerang untuk fisik kita.

Fisik yang sebelumnya kuat, jadi berbalik melemah mengikuti kata pikiran kita..hiks

Jadi, mulai sekarang perbanyak kata-kata semangat dan positif dalam diri ya mom setiap kali muncul rasa takut atau pikiran berlebih .

 

  1. Nama : aisyah – Domisili : brebes

Pertanyaan :

InsyaAlloh saya akan mulai program ivf. Dijadwalkan bulan februari kemarin tapi karena kendala dari RS mundur dan sampai sekarang belum ada kepastian. Saya sering kepikiran ingin cepat-cepat mulai program kadang sampai stress kepikiran. Bagaimana solusinya agar saya bisa berfikir positif semua pasti sudah kehendak Alloh. Trims moms

JAWABAN:

Salam kenal Mom Aisyah

Terkait program yang Mom sedang lakukan dan itu berpengaruh pada pikiran, ada beberapa hal yang perlu mom lakukan:

  1. Selalu update jadwal ke RS secara aktif. Jika pihak RS tidak ada kabar, maka sangat diperbolehkan Mom yang lebih dulu menanyakan.
  2. Jika sampai bulan ketiga dari masa tunggu masih belum ada kejelasan, ada baiknya Mom mulai memikirkan alternatif RS lain.

Masa tunggu yang tidak ada kejelasan dari RS akan semakin menambah beban pikiran dan justru jadi sumber stres. Padahal harusnya datang ke RS kan untuk meringankan stres dengan harapan cepat hamil, hehe.

  1. Jika cara 1 dan 2 sudah diusahakan tapi Qodarullah hanya bisa di RS tersebut, maka untuk mengalihkan stress moms bisa melakukan beberapa aktivitas: semisal membuat jurnal kegiatan yang perlu dilakukan jika program sudah berjalan, atau perbanyak informasi tentang program yang sedang dijalani.

Dengan lebih banyak berpikir tentang *solusi* bukan sekedar rasa takut, stres bisa teralihkan Moms.

Lamtiyah Ikha Indriyana

Lamtiyah Ikha Indriyana

Ibu satu anak yang masih belajar dan berusaha mengelola waktu, tenaga dan pikiran demi menjadi ibu dan istri terbaik untuk keluarga

Related Posts