Mommies Daily Mommies Info Parenting

Sea Games 2019 Sebagai Ajang Sportivitas, 5 Tips Agar Anak Sportif dan Berkompetisi Sehat

Mommies, Southeast Asian Games (Sea Games) 2019 ini digelar di kota Manila, Filipina. Pesta olahraga Asia Tenggara tersebut adalah pertandingan olahraga yang diadakan setiap dua tahun dengan melibatkan 11 negara. Menpora berpesan agar semangat dan menjunjung tinggi sportivitas dalam pertandingan.

Pertandingan atau perlombaan tentu bertujuan melatih sportivitas dengan berkompetisi sehat. Menurut Dr. Chintya E. Johnson dari North Carolina State University, setiap anak mulai berkompetisi sejak usia 5 tahun. Bukan berarti kompetisi dalam suatu perlombaan, tetapi seperti situasi membandingkan mainan siapa yang lebih besar, lebih banyak atau hal sederhana lainnya. Baru di usia 10-11 tahun, anak mulai bisa menerima kekalahan atau kekecewaan.

Perlu disadari Mommies, bahwa kompetisi dimaknai sebagai usaha mempersiapkan anak menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Bukan hanya mencari kemenangan dan kesuksesan. Sehingga orang tua wajib mendukung anak berkompetisi secara sportif sambil berupaya mengajak saling bekerja sama dengan teman.

Sejak akhir 1800-an, para ahli yang melakukan penelitian menyatakan bahwa banyak manfaat yang didapatkan anak dengan saling bekerja sama. Lalu apa yang dilakukan orang tua agar anak mampu sportif dan berkompetisi sehat?

1. Berlatih dari lingkungan keluarga kecil
Dalam berbagai kesempatan di keluarga, latih anak menjadi pemimpin atau pengikut. Misalnya menjadi pemimpin doa sebelum makan. Tujuannya agar anak memikirkan kebutuhan dari anggota keluarga, seperti masih mencuci tangan, antri ambil makanan dan sebagainya.

Permainan kerja sama dan persaingan

2. Kenalkan permainan kelompok dan kompetisi
Melalui ragam permainan tersebut, anak akan belajar membuat strategi agar menang, saling bekerja sama dan menghargai, termasuk menghargai kekalahan yang dialami.

3. Persiapkan menerima kekalahan dan kecewa
Mommies, salah satu mempersiapkan mental kekalahan dan kekecewaan anak bisa dengan permainan. Bermain memasukkan bola dalam keranjang. Dari situ anak akan belajar dalam batas waktu tertentu pasti tidak selalu dapat memasukkan bola. Dengan begitu, anak belajar bahwa tidak semua usaha mendapat hasil sesuai harapan.

4. Menjadi role model yang sportif
Orang tua terlebih dulu bersikap sportif dalam mengajari anak berkompetisi sehat. Misalkan dalam permainan, sebaiknya tidak menunjukkan sikap kecewa tapi lapang dada, mau mengakui kemenangan anak sebagai lawan. Begitu juga saat menang, tidak mengejek mengejek atau seolah sombong.

5. Senantiasa mendampingi
Perhatian pada anak tentu bermanfaat menumbuhkan semangat kompetisi yang positif. Hindari menekan anak agar selalu menang. Yakinkan bahwa orang tua bangga dengan segala sesuatu yang dilakukan secara maksimal dan sepenuh hati.

Mommies, pada dasarnya, anak tidak terlahir kompetitif. Dorongan berkompetisi adalah hal yang dipelajari dari lingkungan sekitar. Anak melakukan segala sesuatu berdasar kesenangan. Tugas orangtua selanjutnya yaitu memupuk dan mengarahkan agar berkompetisi sehat.

Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pesta_Olahraga_Asia_Tenggara

https://m.liputan6.com/news/read/4113551/resmikan-popnas-xv2019-menpora-ajak-para-atlet-junjung-tinggi-sportivitas

https://schoolofparenting.id/mental-anak-kuat-dengan-kompetisi-sehat/

https://mommiesdaily.com/2016/09/28/perlukah-anak-mengenal-kompetisi-sejak-dini/

https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/9/12/13000/Tips-Mengajarkan-Anak-Sportif-dan-Menerima-Kekalahan

Sumber ilustrasi:
liputan6.com
– parenting.orami.co.id

April Fatmasari

Seorang istri sekaligus ibu rumah tangga yang masih belajar memaknai universitas kehidupan dengan tulisan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *