Ibu & Anak Mommies Daily Mommies Info Mommies News Parenting

Pembunuhan Balita Oleh Remaja: Keluarga Sebaik-baiknya Wadah Pencegahan

 

Peristiwa pembunuhan balita berinisial APA yang terjadi Kamis (05/03/20) oleh seorang remaja berinisial NF (15 tahun), terungkap setelah NF melaporkan dirinya telah membunuh balita kepada Kantor Polsek Metro Tamansari, Jakarta Barat.

Menurut pengakuan pelaku, motif pembunuhan ini dilakukan karena NF seringkali melihat film horor thriller Chucky dan Slenderman. Selain itu, muncul keinginan pelaku untuk membunuh ketika korban datang untuk bermain ke rumahnya saat tidak ada orang di rumah.

Berdasarkan pemberitaan tersebut, pembunuhan balita ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Namun demikan, mari kita fokuskan pada satu faktor saja yaitu keluarga. Lalu, terdapat beberapa cara agar keluarga dapat menjadi lingkungan yang baik bagi remaja untuk tumbuh menjadi sosok yang penyayang, yaitu:

1. Menjaga keharmonisan antara ayah dan ibu
: Keharmonisan orang tua adalah hal penting yang harus dijaga dalam suatu keluarga. Ketika komunikasi, cinta, keintiman, kepercayaan ataupun kasih sayang mampu diwujudkan oleh orang tua, maka kehangatan akan dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali anak.
Sama halnya ketika orang tua seringkali berkonflik, saling melempar kata-kata kotor, sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga, maka anak akan merasa tidak nyaman di rumah. Selain itu, anak akan menganggap biasa perilaku kekerasan sehingga dia akan terbiasa menerapkan kekerasan itu dalam lingkungan sosialnya.

2. Ajarkan kepada anak untuk menyayangi sesama
: Menumbuhkan jiwa penyayang bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Tidak semua anak mengerti bahwa hewan tidak boleh disiksa dan bunga tidak boleh diinjak-injak atau dipetik lalu sekedar dibuang saja. Dengan menanamkan bahwa semua makhluk hidup memiliki nyawa dan berhak untuk dipelihara, maka anak akan cenderung lebih bertanggung jawab pada perbuatannya. Pembunuhan balita tidak akan terjadi.

3. Bantu anak untuk mampu mengelola emosi
: Dalam keseharian, hampir semua kegiatan serta interaksi melibatkan emosi. Peristiwa kelulusan, dihargai orang lain, pembullyan, pengasingan, jatuh cinta dan sebagainya. Penting bagi anak untuk memahami dan menerima situasi yg sedang dialami serta mendamaikan emosinya. Ketika merasa sedih, anak tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya dan ketika merasa bahagia, anak mampu mengontrol perasaan senang yang menyelimuti hatinya. Dengan demikian, respon yang ditunjukkan terhadap situasi-situasi emosional tersebut tidak berlebihan ataupun terlalu mendalam. Jangan lupa agar orang tua mencontohkan suatu sikap nyata agar anak dapat mengamatinya.

4. Bantu anak untuk bisa lebih berempati terhadap orang lain
: Memahami keadaan orang lain adalah hal yang penting. Ketika anak mampu memahami keadaan seseorang, maka anak akan lebih mudah memaafkan serta memaklumi. Pandangannya mengenai suatu perilaku lebih luas, sehingga diharapkan hatinya lebih lapang.

5. Bantu anak untuk memilah suatu keadaan
: Dalam kasus pembunuhan balita ini, remaja terpengaruh film horor thriller yang dia sukai. Dia juga memfavoritkan salah satu tokoh pembunuh di dalamnya. Sebagai orang tua, selain melakukan pendampingan, ada baiknya untuk menjalin komunikasi mengenai siapa tokoh yang anak sukai dan alasannya. Lalu, arahkan bahwa tidak semua perilaku yang dipaparkan dalam film adalah perilaku yang patut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti perilaku membunuh. Katakan juga bahwa ketika seseorang menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja, maka kita sudah memotong kesempatan seseorang untuk berbuat baik meskipun mereka telah membuat kita kesal. Anak akan berfikir bahwa siapapun berhak untuk memperbaiki kehidupannya dan hal itu tidak akan terjadi jika kita menghilangkan nyawanya.

6. Ciptakaan keadaan yang membuat anak nyaman berdiskusi dengan kita
: Menjadi teman diskusi yang nyaman bagi anak adalah suatu kesulitan tersendiri bagi orang tua. Oleh karena itu, ada baiknya bagi orang tua untuk berempati kepada keadaan anak-anaknya, sehingga orang tua lebih mudah untuk masuk dalam dunia mereka. Harapannya, orang tua dapat meminimalisir bahasa menghakimi anak dan menggantinya dengan bahasa diskusi.

Kasus pembunuhan balita terjadi karena adanya kesehatan mental yang terganggu pada anak akibat hancurnya masa kecil mereka, bukan moralitas. Semoga ini adalah kasus yang terakhir kali untuk negeri ini.

Sumber bacaan:

https://m.tribunnews.com/amp/metropolitan/2020/03/08/terungkap-motif-abg-bunuh-balita-dan-simpan-di-lemari-pelaku-semalaman-tidur-dekat-mayat-korban

https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/4196222/begini-kronologi-gadis-remaja-bunuh-bocah-6-tahun-di-jakpus

https://nationalgeographic.grid.id/amp/13706957/mary-bell-bocah-pembunuh-berantai-berdarah-dingin-asal-inggris?page=all

Sumber gambar:

https://m.detik.com/news/opini/d-4929206/misteri-sketsa-bondage-di-pembunuhan-bocah-oleh-abg-perempuan

https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/aditya-daniel/bisa-muncul-di-mana-saja-ini-5-kengerian-slender-man

Maulia Nur Adrianisah

Saya seorang wanita yg bangga memiliki profesi utama menjadi ibu rumah tangga. Juga seorang istri dari sesosok laki-laki yg senang mengajar dan menulis. Namun lebih terlihat cahayanya ketika menulis, lalu tanpa disadari saya pun mengikuti jejaknya. Semoga apapun yg kami tuliskan, bermanfaat bagi banyak orang, khususnya kami sendiri sebagai manusia yg masih perlu banyak belajar.
Follow Me:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *