Mommies Daily

Mengenal Sindroma Baby Forever

Assalamu’alaikum..
Selamat hari Jumat buat para mommies..
Semoga semuanya selalu dalam keadaan sehat wal’afiat..

Mommies, apakah kalian sudah familiar dengan Sindroma ‘Baby Forever ‘?
Apa penyebabnya dan bagaimana teknik jitu mengatasinya?

Baik mommies..
Kali ini, izinkan saya mengupas tuntas Sindroma ‘Baby Forever’ berikut solusinya.

Secara etimologi, bila dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata Sindroma atau Sindrom adalah :


1. himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu;
2. hal-hal (seperti emosi atau tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi.
Sementara, Baby Forever sendiri dari bahasa Inggris yang memiliki arti : Bayi Selamanya.

Lalu sebenarnya apa penjelasan dari Sindrom ‘Baby Forever’ ini?

Yap, dikutip dari buku Nanny 911 yang ditulis oleh Deborah Carroll dan Stella Reid, menerangkan bahwa anak-anak yang memiliki sindrom atau gejala ini tidak lain adalah hasil bentukan dari perilaku orang tuanya yang ingin anak-anaknya tetap menjadi ‘anak-anak selamanya’. Para orangtua ini melakukan segala cara bagi anak-anaknya tersebut dengan menyuapi mereka, memakaikan baju, tidur di kasur bersama mereka bahkan menggendong mereka. Padahal, jika anda memperlakukan anak-anak seperti bayi maka mereka akan terus bertingkah seperti bayi dan menjadi sangat manja, tentu ini bukan murni kesalahan mereka.

1. himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu;
2. hal-hal (seperti emosi atau tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi.
Sementara, Baby Forever sendiri dari bahasa Inggris yang memiliki arti : Bayi Selamanya.

Lalu sebenarnya apa penjelasan dari Sindrom ‘Baby Forever’ ini?

Yap, dikutip dari buku Nanny 911 yang ditulis oleh Deborah Carroll dan Stella Reid, menerangkan bahwa anak-anak yang memiliki sindrom atau gejala ini tidak lain adalah hasil bentukan dari perilaku orang tuanya yang ingin anak-anaknya tetap menjadi ‘anak-anak selamanya’. Para orangtua ini melakukan segala cara bagi anak-anaknya tersebut dengan menyuapi mereka, memakaikan baju, tidur di kasur bersama mereka bahkan menggendong mereka. Padahal, jika anda memperlakukan anak-anak seperti bayi maka mereka akan terus bertingkah seperti bayi dan menjadi sangat manja, tentu ini bukan murni kesalahan mereka.

Hingga kini, menurut pengamatan para pakar parenting, masih banyak terlihat para orangtua yang melakukan hal demikian. Mereka selalu ingin dipandang sebagai sosok orangtua yang mengasihi, memanjakan, hingga mengabaikan fakta tak terbantahkan bahwa mereka sedang dalam proses menciptakan monster perengek kecil yang manja.

Sudah barang tentu, anak-anak sangat membutuhkan perhatian dari orangtua mereka. Mereka akan mencoba berbagai cara dan berusaha mengambil sikap agar bisa mendapatkan perhatian, baik itu dengan rengekan, cerewet hingga perilaku memukul. Sekali mereka berhasil memperoleh perhatian orangtuanya lewat rengekan, maka ia akan mengingat-ingat dan mempelajari bahwa apa yang ia mau akan dikabulkan orangtuanya jika dia merengek. Dan pada akhirnya mereka akan mencobanya kembali bahkan hingga berulang kali.
Masa merengek biasanya dimulai sejak usia bayi dan berlanjut pada usia 3-5 tahun. Peningkatan rengekan bisa dipicu oleh orangtua yang selalu memenuhi kebutuhan anak setiap kali ia merengek.
Rengekan dapat berlanjut hingga usia lebih tinggi jika orangtua gagal mengajarkan teknik meminta dengan bahasa yang dipahami.

Nah, berikut ini ada beberapa hal praktis yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam mencegah dan menghentikan rengekan anak sehingga anak terhindar dari Sindroma ‘Baby Forever’, antara lain :

1. Ajari cara berkomunikasi yang efektif sejak dini. Perilaku merengek pada anak tercipta karena ia sebenarnya tak tau cara meminta dan mengekspresikan perasaannya. Jadi, orang tua perlu mendidik anak tentang cara meminta sesuatu dengan baik dan cara mengekspresikan perasaannya dengan benar. Kemungkinan besar berkurangnya perilaku merengek terjadi jika seorang anak dapat mengutarakan perasaannya dengan baik.

2. Penuhi kebutuhan dasar. Kondisi capek, lapar, sakit bisa membuat anak rewel dan suka merengek. Maka dari itu, orangtua harus memastikan kebutuhan dasar anak apakah sudah cukup terpenuhi atau belum.

3. Cukupi perhatiannya. Sesibuk apapun kita sebagai orangtua, sebaiknya jangan lupa untuk tetap memberikan perhatian yang cukup kepada anak dan sesuai porsinya.

4. Alihkan konsentrasinya. Saat anak kita meminta sesuatu sambil merengek, jelaskan pada mereka bahwa kita tidak akan memberikan apa yang ia kehendaki jika disertai suara rengekan. Bila cara ini tak berhasil, maka kita perlu mencoba mengalihkan konsentrasinya pada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.

5. Biarkan anak membuat keputusan sendiri. Sebagai orangtua, kita perlu membantu anak agar memiliki kontrol atas dirinya. Bisa dimulai dari hal sederhana, misalnya memilih baju yang akan dipakai, mainan yang akan digunakan dan sebagainya.

6. Berikan apresiasi. Setiap kali anak berhasil berkomunikasi dengan jelas dan meminta sesuatu dengan sopan. Namun dengan cara ini, tidak berarti permintaan anak langsung dipenuhi.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari adanya sindroma ‘Baby Forever’ ini yaitu betapa penting peran orangtua di dalam menghentikan rengekan atau malah melanjutkannya hingga menjadikannya perilaku permanen dalam diri anak. Jika orangtua dengan tegas untuk tidak menerima permintaan dengan rengekan, maka anak pun akan menghentikan perilaku tersebut.

Semoga bermanfaat ya mommies. Sekian dan terima kasih.

Aprilia Tika Primasanti

Aprilia Tika Primasanti

Seorang ibu yang bersemangat belajar untuk menjadikan hidupnya bahagia dengan membersamai keluarga dan semaksimal mungkin ingin bermanfaat dan membawa perubahan menuju lebih baik.

Related Posts