Health

Mengenal Lebih Jauh Dermatitis Atopik pada Bayi

Beberapa hari lalu, curhatan “Derita Anak Lucu” dari seorang ayah tentang hal yang tidak menyenangkan terjadi pada anak kesayangannya viral di media sosial. Dalam unggahan di akun pribadinya, sang ayah menceritakan kronologis timbulnya dermatitis atopik yang dialami oleh anaknya. Di akhir curhatnya, ia pun berpesan kepada khalayak luas agar tidak sembarangan menyentuh, terlebih lagi mencium anak orang lain. Dari peristiwa tersebut, mommiesharing akan mengajak moms dan dads untuk mengenal lebih jauh mengenai dermatitis atopik.

Dilansir dari situs IDAI, dermatitis atopik (eksim susu) adalah peradangan kulit bayi dan anak yang terjadi berulang berupa bintil-bintil kemerahan, gatal, yang kemudian bila berlangsung lama (kronik), kulit menjadi kering, bersisik, luka-luka atau menebal dan menjadi kehitaman. Menurut dr. Zakiudin Munasir dan dr. Karina Komala, hingga saat ini belum ada penyebab yang pasti munculnya dermatitis atopik ini. Umumnya, dermatitis atopik timbul karena adanya faktor genetik atau keturunan. Orang yang menderita dermatitis atopik cenderung memiliki imunoglobulin E (IgE) yang tinggi di dalam darahnya, sehingga tubuh sangat responsif melawan zat yang dianggap ancaman bagi tubuh.

Dermatitis atopik dapat muncul kapan saja di tubuh penderita, namun hal tersebut dapat diminimalisir dengan menghindari pemicunya, antara lain :

  • Sabun mandi /deterjen pakaian

Untuk sabun mandi, gunakan sabun dengan pH netral dan yang mengandung pelembab, serta hindari pembersih antibacterial. Sebaiknya, mandikan si kecil dengan air hangat 1-2 kali sehari dan tidak lebih dari 10 menit setiap kalinya. Sedangkan untuk deterjen, pilihlah deterjen yang lembut, hypoalegenic, dan pastikan  deterjen telah terbilas dengan bersih saat mencuci pakaian.

  • Kondisi kulit yang terlalu kering

Jika kulit si kecil terasa kering, moms dan dads bisa mengoleskan krim steroid yang diberikan sesuai resep dokter dan bila sudah sembuh kulit harus dijaga kelembabannya dengan mengoleskan krim pelembab segera setelah mandi.

  • Makanan seperti makanan berbahan dasar susu, telur, coklat, dsb

Bagi sebagian orang, makanan yang berasal dari produk susu, telur, dan yang mengandung coklat dapat menimbulkan alergi tersendiri. Untuk itu, sebaiknya hindari memberi si kecil menu yang mengandung susu serta turunannya, telur dan coklat agar dermatitis atopik tidak kambuh kembali.

  • Cuaca yang terlalu dingin atau panas

Cuaca yang terlalu panas, akan menimbulkan produksi keringat lebih banyak dari biasanya. Hal tersebut dapat menjadi pemicu timbulnya sensasi gatal akibat keringat yang menumpuk di atas permukaan kulit. Selain itu, cuaca dingin pun dapat mengakibatkan timbulnya dermatitis atopik, terutama bagi orang yang alergi terhadap udara dingin. Kenakanlah si kecil pakaian yang sesuai dengan cuaca setempat, seperti pakaian tipis dan longgar di saat cuaca panas dan baju hangat tebal di saat cuaca dingin.

  • Debu

Debu merupakan partikel yang selalu ada dan pasti kita temui di setiap harinya. Tanpa disadari, debu dapat menjadi biang kerok kambuhnya dermatitis atopik. Oleh karena itu, pastikan bantal, sprei dan handuk si kecil dicuci secara berkala untuk mencegah menumpuknya debu pada bahan yang sering kontak dengan kulit.

  • Bulu hewan

Bulu hewan juga dapat menjadi pemicu dermatitis atopik. Apabila moms dan dads memiliki hewan peliharaan di rumah, sebaiknya hindari hewan tersebut kontak dengan benda milik si kecil dan benda yang cenderung dapat mengikat bulu hewan, seperti kasur, bantal  selimut, karpet, sofa dan lain sebainya.

  • Stress psikologis

Bidang psikoneuroimunologi telah memberikan banyak wawasan baru untuk memahami peran stress pada dermatitis atopik. Baru-baru ini, telah ditetapkan lebih lanjut melalui sarana klinis dan fisiologis bahwa stress psikologis merupakan kontributor signifikan terhadap perjalanan penyakit dermatitis atopik melalui efek langsung dan tidak langsung pada respon imun, ekspresi neuropeptida kulit, dan fungsi sawar kulit. Oleh sebab itu, sebaiknya hindari anak moms dan dads dari hal-hal yang dapat membuatnya stress, misalnya overstimulated, diantara kerumunan orang dalam waktu yang lama, berada di situasi yang bising, kurang istirahat, dan lain sebagainya.

  • Bahan pakaian yang dikenakan

Pakaian baru si kecil sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai untuk membersihkan formaldehid atau bahan kimia tambahan. Jangan kenakan pakaian terlalu tebal, ketat, atau kotor, atau yang bersifat iritan (wol atau sintetik); bahan katun lebih baik. Selain itu, penting pula  diperhatikan kebersihan daerah popok. Gantilah popok setiap 4 jam sekali dan jangan tunda bersihkan ketika si kecil buang air besar.

  • Bakteri Staphylococcus

Pada kulit terdapat bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Bakteri Staphylococcus aureus bersifat patogen dan merupakan suatu koloni yang paling dikenal pada penderita dermatitis atopik. Ketidakseimbangan flora normal kulit dan menurunnya sistem imun akan menjadi pemicu berkembangnya koloni Staphylococcus aureus yang mengakibatkan timbulnya dermatitis atopik. Agar dermatitis atopik si kecil tidak kambuh kembali, maka jaga selalu kebersihan ya, moms dan dads.

Apabila kondisi kulit si kecil kian parah, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Sekian info dari mommiesharing, semoga bermanfaat 😊

 

Sumber bacaan:

Zakiudin Munasir dan Karina Komala. “Perawatan Kulit pada Anak dengan Dermatitis Atopik”. 15 Juni 2014. <http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-perawatan-kulit-pada-anak-dengan-dermatitis-atopik>

“Apa Saja Gejala dan Penyebab Dermatitis Atopik”. <https://doktersehat.com/apa-sajakah-penyebab-dan-gejala-eksim-dermatitis-atopik/amp/>

Lika Aprilia Samiadi. “Dermatitis Atopik”. 28 September 2017. <https://hellosehat.com/penyakit/dermatitis-atopik/amp>

Tjin Willy. “Pengertian Eksim Atopik”. 27 Januari 2019. <https://www.alodokter.com/eksim-atopik>

Andrea L. SUÁREZ, Jamison D. FERAMISCO, dan Martin STEINHOFF. “Psychoneuroimmunology of Psychological Stress and Atopic Dermatitis: Pathophysiologic and Therapeutic Updates”. Januari 2012. <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3704139/>

 

Miranti Verdiana Ranu Muindro

Miranti Verdiana Ranu Muindro

Hello, I’m Mira and I’m One Happy Housewife! Allah has blessed me with an amazing husband and a wonderful son. I am half Javanese and half Sundanese. I love writing, organizing, home decorating, playing with my son, and planning out and making lists for everything! I am lucky enough to be a housewife and stay-at-home mom and do what I love everyday.

Related Posts