Ibu & Anak Parenting

Mengenal dan Mengatasi Tantrum pada Anak

Tantrum (temper tantrum) adalah ledakan emosi yang sangat umum terjadi pada balita, biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menjerit, menangis, mengomel hingga bahkan mengamuk. Frekuensi dan intensitas tantrum paling sering terjadi pada balita dan akan menurun seiring pertambahan usia. Tantrum merupakan hal yang sangat normal terjadi dan bahkan dapat dijadikan sebagai pengukur kekuatan pengembangan karakter anak.

Penyebab Tantrum pada Anak

Tantrum biasanya terjadi sebagai wujud ekspresi frustasi saat si kecil tidak bisa atau gagal melakukan suatu hal misalnya mengambil mainan di atas lemari, membuka tutup botol minuman, ataupun aktifitas lainnya.

Ledakan emosi pada anak juga biasa terjadi saat keinginannya tidak terpenuhi, si kecil kurang memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Sebagai contoh saat si kecil masih ingin terus bermain tetapi mommies mengajaknya pulang atau saat ia merengek ingin ikut sang kakak pergi ke sekolah dan mommies melarangnya. Luapan emosi juga terjadi akibat si kecil yang belum bisa menyampaikan maksud dan keinginannya dengan jelas. Kemampuan bahasa yang masih kurang mengakibatkan si kecil belum bisa menyusun kalimat kompleks untuk mengutarakan keinginannya.

Selain itu, tantrum juga biasa dilakukan si kecil untuk menarik perhatian mommies atau orang-orang di sekitarnya. Itulah sebabnya kebiasaan tantrum akan terus dilakukan si kecil apabila ia tahu dengan cara itu ia berhasil menarik perhatian mommies atau mendapatkan hal yang ia inginkan.

Cara mengatasi tantrum

1. Cari tahu penyebab
Diperlukan observasi selama beberapa hari hingga bahkan minggu mommies untuk mengetahui hal-hal apa saja yang bisa memicu buah hati mommies mengalami tantrum. Jika mommies sudah mengetahui pemicunya sebisa mungkin hindari hal tersebut agar tidak terjadi ledakan emosi kepada sang buah hati. Sebagai contoh misalnya si kecil akan sangat marah jika mainannya diambil paksa darinya, maka mommies bisa berinisiatif dengan memberikan mainan lain sebelum mengambil mainan dari si kecil.

2. ‎Perhatikan gejala awal
Poin kedua ini juga membutuhkan observasi beberapa waktu untuk mengenali gejala awal tantrum pada anak. Pada beberapa anak, tantrum biasanya diawali dengan merengek, menangis, berteriak ataupun gejala lain. Apabila mommies sudah mengenali tanda-tanda awal si kecil akan mengalami tantrum mommies bisa terlebih dahulu mengalihkan perhatian si kecil agar emosinya tidak semakin menjadi jadi. Tetapi mommies perlu ingat, pengalihan perhatian ini sebaiknya dilakukan sebelum si kecil benar-benar tantrum.

3. ‎Beri anak ruang
Apabila ledakan emosi sudah terjadi pada si kecil, beri ia ruang untuk melampiaskan semua kekesalan, kemarahan dan kesedihannya. Bahkan orang dewasa pun memerlukan ‘waktu sendiri’ untuk meluapkan emosinya.

4. ‎Tetap tenang
Tak bisa dipungkiri bahwa mommies akan ikut panik ketika si kecil mulai meraung raung ataupun menangis kencang ketika apa yang ia inginkan tidak mommies berikan. Tetapi mommies harus tetap tenang mengahadapi kemarahan si kecil. Sabar, fokus dan tetap awasi tindakan si kecil agar tidak membahayakan dirinya dan orang lain.

5. ‎Bersikap tegas
Sebenarnya cara tercepat untuk menghentikan tantrum pada anak adalah dengan memberikan apa yang dia inginkan. Tetapi mommies harus menyadari bahwa cara ini justru dapat menyebabkan ledakan emosi yang lebih parah di kemudian hari. Jika mommies menuruti keinginan si kecil saat ia mulai menangis kencang, si kecil akan menangkap sinyal bahwa dengan cara menangis tersebut keinginannya akan terpenuhi dan di kemudian hari ia akan berupaya menangis lebih keras agar mommies mengabulkan keinginannya.

6. ‎Jangan tertawakan
Sering kali saat si kecil mulai menangis atau memanyunkan bibirnya wajah si kecil justru terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Hal ini kerap menimbulkan riang tawa pada mommies atau anggota keluarga lain. Tak jarang justru ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda akan menangis, sang nenek, om maupun tantenya akan berlomba-lomba meng-‘kudang’ (bahasa jawa, artinya hampir mirip dengan mengajak bercanda) dan justru akan membuat si kecil semakin menangis. Bagaimanapun, si kecil memerlukan waktu-‘nya sendiri’ untuk meredakan emosinya.

7. ‎Bawa anak ke tempat tenang
Saat si kecil menunjukkan gejala tantrum di tempat umum, tentu mommies akan lebih panik dan gugup. Tak jarang tatapan risih beberapa orang semakin menyudutkan mommies dan membuat mommies ingin segera menghentikan ledakan emosi si kecil. Tetap tenang mommies dan upayakan untuk memindahkan si kecil ke tempat yang lebih tenang. Selain akan membuat mommies lebih tenang, cara ini juga akan meminimize kemungkinan bahaya terjadi pada si kecil.

8. ‎Hindari mengumbar janji
Apakah mommies termasuk jenis orang tua yang gemar memberikan janji-janji manis untuk menghentikan ledakan emosi si kecil? Jika iya, alangkah lebih baik jika mommies menghentikan kebiasaan tersebut. Janji manis yang bersifat semu dan palsu hanya akan membuat si kecil tenang dalam kurun waktu tertentu, tidak menutup kemungkinan kelak si kecil akan memunculkan ledakan emosi dengan intensitas lebih tinggi agar janji-janji tersebut terealisasi. Selain itu, kebiasaan mengumbar janji hanya akan mengajarkan kepada si kecil berbohong.

9. ‎Ajak bicara, jelaskan perlahan dan beri si kecil pelukan
Apabila ledakan emosi si kecil mulai berangsur-angsur mereda, ajaklah si kecil berbicara dari hati ke hati secara perlahan. Jelaskan alasan mengapa mommies melarangnya melakukan sesuatu atau tidak mengabulkan peemintaannya. Setelah itu beri si kecil pelukan dan biarkan ia menyelesaikan tangisannya di pelukan mommies. Pada momen ini ajak si kecil memahami bahwa tidak semua hal yang ia inginkan bisa terpenuhi.

10. ‎Sikap konsisten
Intensitas dan frekuensi tantrum pada sang buah hati akan berangsur-angsur menurun seiring pertambahan usia dan kemampuan bahasanya yang semakin berkembang. Penurunan ini juga bisa didukung dengan sikap konsisten mommies dalam memberikan pola asuh yang tepat kepada si kecil. Diskusikan dan bangun kerjasama yang selaras dengan anggota keluarga lain dalam mengasuh si kecil. Tak jarang ledakan emosi si kecil justru semakin menjadi-jadi manakala mommies sudah berupaya tegas dan konsisten terhadap aturan yang ditetapkan kepada si kecil tetapi sang ayah/nenek/kakek dengan mudahnya mengabulkan permintaan si kecil.

11. ‎Hindari pengekangan
Mommies juga bisa mengurangi frekuensi dan intensitas tantrum si kecil dengan tidak terlalu mengekang kehidupannya. Bagaimanapun, sang buah hati ialah manusia kecil yang rasa penasarannya masih sangat tinggi. Keinginannya untuk melakukan hal-hal baru mendorongnya untuk terus mencoba melakukan banyak hal. Buat aturan yang masuk akal untuk si kecil yaa mommies, dan pastikan mommies selalu ada untuk mengawasi dan menjaukan si kecil dari bahaya.

Tantrum adalah hal yang sangat wajar terjadi pada anak, yang tidak wajar ialah selalu menuruti keinginan sang anak.

Sumber:

1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tantrum
2. ‎https://m.kumparan.com/@kumparanmom/anak-tantrum-sebab-dan-cara-menanganinya
3. ‎https://www.alodokter.com/begini-cara-mengatasi-tantrum-pada-anak
4. ‎https://www.rumahbunda.com/pola-asuh/cara-mengatasi-tantrum-pada-anak/

Lamtiyah Ikha Indriyana

Lamtiyah Ikha Indriyana

Ibu satu anak yang masih belajar dan berusaha mengelola waktu, tenaga dan pikiran demi menjadi ibu dan istri terbaik untuk keluarga

Related Posts