Mommies Story

Mari Jadi Ibu Yang Bahagia !

“Beneran yakin mau resign? Gak sayang sama kerjaannya?”

“Mending gaji pembantu ajalah daripada harus resign”

“Sayang lo uda sekolah tinggi, uda sarjana tapi di rumah aja”

Begitulah beberapa reaksi beberapa orang ketika mengetahui jika seorang working mom akan meninggalkan pekerjaan. Dan  memang bukan keputusan yang mudah untuk memutuskan bahwa harus keluar dari pekerjaan dan menjadi seorang ibu rumah tangga.

Seperti pengalaman saya, saat itu sejujurnya saya memang masih ingin bekerja. Saya masih ingin berkarir, masih ingin mempunyai pendapatan dari hasil keringat sendiri. Masih butuh ngobrol dan bercanda dengan teman-teman. Tapi di sisi lain saya jauh lebih ingin bersama anak dan suami saya lebih lama.

Selama ini saya dengan suami memang beda kota, kami bertemu 3 hari sekali. Jarak kami memang tidak begitu jauh, bisa di tempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 2 jam. Namun seringkali sedih rasanya jika pasangan sakit dan kita hanya bisa memberi perhatian lewat telepon atau video call menyuruh membeli obat, makan yang bergizi dan istirahat cukup tanpa bisa berbuat apa-apa.

Ketika saya bekerja, anak saya bersama Opa (Ayah saya) di rumah. Opa memang masih kuat, masih bisa gendong, menyuapi ketika makan dan sekedar menemani bermain. Tapi lama kelamaan  anak saya makin besar, makin aktif lari-larian kesana kemari. Jadi tiap pulang kerja, saya melihat ayah saya tidur dan tampak kelelahan mengasuh  anak saya. Seringkali Ayah saya secara tidak langsung mengeluh, kalau  anak saya seharian tidak tidur sama sekali, malah minta main dan lari-larian terus Ya memang seumuran dia sedang aktif-aktif nya menge-explore semuanya.  Mendengar cerita seperti itu, saya sebagai anak merasa sedih karena merasa terus merepotkan orang tua.

Dengan berbagai alasan dan pertimbangan  itulah akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan. Sedih? Pasti. Karena sudah terbiasa dengan rutinitas pekerjaan dan kebersamaan dengan teman kerja. Ikhlas ? Hmm rasanya kalau bicara soal ikhlas itu tahapannya berat ya. Kada ng di mulut terucap kata ikhlas namun nyatanya dari sikap kok enggak sepenuhnya ikhlas. Butuh penerimaan yang luar biasa buat yang sudah terbiasa ekerja, dan akhirnya harus memilih untuk resign.

Yaa anggap saja kita keluar dari zona nyaman, dan menghadapi pekerjaan baru yang lebih menantang. Pekerjaan baru ini lebih melelahkan karena kerjanya 24 jam dan lebih bahagia karena punya partner kerja (suami dan anak), yang selalu siap membantu.

Menjadi ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga sama baiknya. Masing-masing tergantung dengan kondisi keluarga masing-masing. Percayalah setiap ibu pasti berusaha keras agar keluarganya selalu dalam kondisi yang nyaman dan bahagia. Dan sekarang saya bahagia dengan pekerjaan saya sekarang menjadi ibu rumah tangga.

Jadi buat para ibu, mari kita jadi ibu yang bahagia. Buat para ayah mari bahagiakan pasangan masing-masing. Karena ibu yang bahagia akan membuat keluarga lebih bahagia.