Ibu & Anak

Kunci Rahasia Mencerdaskan Anak

Memiliki anak yang sehat dan cerdas adalah dambaan bagi setiap orang tua. Untuk mencapainya, tentu anak harus didukung dengan stimulasi dan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembangnya optimal.

Kepedulian akan nutrisi anak memang sudah ada sejak dahulu. Suksesnya kampanye menu “4 sehat 5 sempurna” menjadi bukti awal akan kesadaran orang tua terhadap pemenuhan nutrisi anak di masa tumbuh kembangnya. Hingga baru-baru ini dikenal pula oleh khalayak ramai mengenai menu “MPASI 4 bintang” yang mengandung berbagai variasi bahan makanan. Lain halnya dengan stimulasi, dimana kesadaran orang tua masih belum tumbuh dan manfaat stimulasi pun sering terabaikan. Namun, seiring perkembangan zaman, kesadaran orang tua terhadap pentingnya stimulasi anak semakin bertambah dan kini menjadi pusat perhatian bagi kalangan orang tua baru.

Stimulasi memang mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi anak, terlebih lagi jika berada di dalam fase golden period atau periode emas. Di periode emas ini, otak kecil anak sedang berada pada titik teraktif untuk menyerap segala stimulasi. Oleh karena itu, memberikan berbagai stimulasi dalam periode ini akan lebih optimal bagi kecerdasan otak anak.

Sebelum membahas mengenai stimulasi anak, ada baiknya jika moms memahami betul apa yang disebut dengan periode emas. Periode emas adalah masa dimana otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dikutip dari situs www.firstthingfirst.org, periode emas dialami oleh anak pada rentang usia 0-5 tahun.

Menurut hasil penelitian, anak yang distimulasi sejak bayi memiliki kematangan yang jauh lebih baik dalam hal konsentrasi, bahasa, sosio emosional, motorik, dan kognitifnya dibandingkan dengan anak yang tidak pernah distimulasi. Jenis stimulasi dan durasi yang diberikan pun harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak agar anak tidak mengalami over-stimulasi yang dapat menyebabkan anak rewel, menghindari kontak mata, hiperaktif dan cenderung membangkang.

Tahukah moms bahwa setiap anak memiliki saraf-saraf di otaknya yang belum saling bersambungan?

Pada dasarnya, tujuan stimulasi adalah untuk membantu antara saraf satu dengan saraf yang lain agar saling bersambungan. Jika saraf-saraf sudah saling bersambungan saat masih usia dini, maka ketika usia sekolah anak akan lebih mudah menyerap berbagai informasi. Bahkan beberapa ahli percaya salah satu penyebab menurunnya fungsi otak pada anak dikarenakan tidak cukupnya stimulasi yang didapatkan ketika periode emas.

Nah…pasti moms tidak inginkan hal tersebut terjadi pada anak moms. Yuk kita berikan stimulasi anak secara seimbang dengan memperhatikan aspek-aspek di bawah ini:

  1. Penglihatan
    Untuk stimulasi penglihatan, moms bisa lakukan kontak mata dengan anak, mengenalkan aneka warna, pelabelan benda, dan lain sebagainya.
  2. Peraba
    Stimulasi alat peraba anak dapat dilakukan dengan mengenalkan anak berbagai macam tekstur untuk dipegang maupun diinjak, seperti tekstur kasar-halus, keras-lunak, kenyal, dingin-hangat, tebal-tipis, dan masih banyak lagi.
  3. Pengecap
    Seperti indera yang lainnya, indera pengecap pun butuh stimulasi. Stimulasi dapat diberikan berupa rasa bahan makanan dan tekstur MPASI yang bervariasi, menggunakan media seperti teether, dan mengenalkan sensasi air hangat dan air dingin.
  4. Pendengaran
    Untuk pendengaran, moms bisa menstimulasinya dengan memainkan alat musik, mengobrol, bernyanyi dan mengenalkan berbagai macam suara hewan.
  5. Penciuman
    Menstimulasi penciuman dapat dilakukan dengan memperkenalkan berbagai aroma makanan dan bahan makanan, misal aroma sup, sereh, lengkuas, jeruk, dan lain sebagainya. Namun, pastikan hidung anak tidak terlalu dekat dengan objek ya moms karena saraf hidung anak masih sensitif, dikhawatirkan akan timbul alergi atau pun iritasi.
  6. Gerak tubuh
    Stimulasi gerak tubuh atau biasa sering terdengar dengan istilah stimulasi motorik, adalah stimulasi yang sangat menyenangkan, namun butuh banyak kesabaran. Stimulasi motorik sendiri terbagi 2 jenis, yaitu motorik halus dan motorik kasar. Stimulasi motorik halus dapat dilakukan dengan aktivitas seperti meronce, memindahkan pompom dengan pinset, bermain balok susun dan sebagainya. Sedangkan stimulasi motorik kasar membutuhkan energi yang lebih besar seperti melompat, menendang/melempar bola, berlari, berjalan di papan titian, menaiki/menuruni tangga, dan lain sebagainya

Sekarang moms sudah ada gambaran kan mengenai kegiatan apa saja yang dapat moms terapkan untuk menstimulasi si kecil?

Pastikan anak memperoleh nutrisi dan stimulasi yang baik ya, moms karena periode emas sangat penting bagi anak dan tidak akan dapat terulang kembali. Sangat disayangkan jika periode tersebut dilewati tanpa nutrisi dan stimulasi yang memadai.

Sumber:

Lucich, Mardi. “Building Baby’s Intelligence:
Why Infant Stimulation Is So Important”. Health and Safety Notes California Childcare Health Program. November 2002.

Jha, Alok. “Childhood stimulation key to brain development, study finds”. 14 Oktober 2012. <https://www.google.com/amp/s/amp.theguardian.com/science/2012/oct/14/childhood-stimulation-key-brain-development>

NN. “Early Childhood Matters: Brain Development”.<https://www.firstthingsfirst.org/early-childhood-matters/brain-development/>

 

Miranti Verdiana Ranu Muindro

Miranti Verdiana Ranu Muindro

Hello, I’m Mira and I’m One Happy Housewife! Allah has blessed me with an amazing husband and a wonderful son. I am half Javanese and half Sundanese. I love writing, organizing, home decorating, playing with my son, and planning out and making lists for everything! I am lucky enough to be a housewife and stay-at-home mom and do what I love everyday.

Related Posts