Mommies Info Mommies News

Kasus Menempelkan Kotoran: Mari Ajari Anak Kita Untuk Bersikap Bijak Sejak Dini

Pertemuan orang tua dan siswa kelas VII Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Kabupaten Sikksa, Nusa Tenggara Timur yang diadakan pada Selasa (25/2/2020), diadakan oleh pihak guru guna klarifikasi kasus “Memakan Kotoran” yang terjadi pada Rabu (19/2/2020) lalu. Pihak sekolah meluruskan bahwa oknum yang memberikan perlakuan adalah dua orang siswa kelas XII yang ditugaskan untuk menjaga kebersihan asrama adik kelas mereka, yaitu siswa kelas VII. Kemudian mereka menemukan sekantong plastik berisi kotoran. Ketika ditindak lanjuti, tidak ada satupun siswa kelas VII yang mengaku. Kedua siswa tersebut menjadi kesal, lalu menyendok kotoran dan menyentuhkannya ke bibir mereka.

Emosi merupakan salah satu aspek psikologis dalam diri individu yang medukung keberlangsungan hidup seseorang. Tanpa emosi, seseorang akan sulit untuk berempati ketika mencoba memaknai suatu keadaan ataupun melawan ketika merasa marah terhadap suatu keadaan. Oleh karena itu, emosi perlu didampingi oleh pikiran agar bisa mengambil suatu sikap yang lebih bijak.

Pada kasus kedua kakak kelas tersebut, mereka berada pada kondisi yang sangat wajar untuk merasa marah. Sebab, mereka diserahi tanggung jawab oleh pihak sekolah untuk menjaga kebersihan. Namun, mereka menemukan kondisi yang menguji emosi serta tanggung jawab mereka, yang kemudian mengambil sikap menempelkan kotoran pada bibir adik-adik kelas mereka karena tidak ada satupun yang mengakuinya.

Sebagai orang tua ataupun guru, ada baiknya jika kita memberikan suatu pembiasaan agar anak-anak kita dapat bersikap bijak untuk menyikapi suatu keadaan sulit. Hal yang bisa kita terapkan antara lain:

1. Menguasai emosi
Menguasai emosipun penting untuk dilakukan. Salah satu cara mudah yang dapat dilakukan untuk menguasai emosi adalah dengan melakukan latihan relaksasi. Menarik nafas akan menurunkan ketegangan sehingga emosi perlahan menjadi stabil. Ketika emosi sudah dikuasai, maka kejadian mempelkan kotoran pada bibir adik kelas tidak akan terjadi.

2. Memahami suatu kondisi
Respon akan diberikan sebagai tanggapan terhadap suatu kondisi. Respon yang tepat akan muncul ketika suatu kondisi dapat dipahami dengan baik. Pada kasus kedua siswa tersebut, marah adalah respon yang wajar. Namun hal yang perlu ditekankan adalah suatu pemahaman tentang penyebab keberadaan kotoran tersebut. Mengejar siapa pelakunya memang tidak salah, akan tetapi akan lebih bijak jika kita mencoba untuk memahami terlebih dahulu penyebabnya.

3. Berempati
Berempati sangat sulit dilakukan ketika emosi belum stabil dan kita belum mencoba untuk memahami keadaan. Kejadian menempelkan kotoran muncul karena tidak ada satupun dari adik kelas yang mengakui perbuatan mereka. Padahal, walaupun kejadian itu terjadi di asrama kelas VII, bisa saja bukan mereka pelakunya. Atau barangkali ada yang sangat takut untuk mengakui karena tidak menyangka hal yang dilakukannya akan menjadi suatu masalah besar. Dengan berempati, kita dapat memilih jalan lain untuk memberikan suatu tindakan.

4. Berdiskusi dengan orang yang lebih dewasa
Bimbing anak untuk tidak sungkan mendiskusikan permasalahan yang mereka temui. Suatu sikap yang bijak bisa terlatih dari pengalaman anak dalam melihat orang yang lebih dewasa dari mereka dalam mengambil sikap. Sehingga kejadian menempelkan kotoran pada bibir siswa tidak akan terulang lagi dalam bentuk lain.

Kesalahan dalam menyikapi suatu permasalahan adalah hal yang wajar. Namun, ketepatan dalam menanggapi kesalahan tersebut serta tidak mengulangi hal itu lagi adalah hal yang lebih penting. Oleh karena itu, mari kita contohkan kepada anak ataupun siswa kita untuk mengambil poin penting perubahan perilaku dari kesalahan yang telah dilakukan.

 

Sumber bacaan:

https://regional.kompas.com/read/2020/02/25/14381481/puluhan-siswa-dihukum-makan-kotoran-manusia-orangtua-minta-pelaku-dipecat?page=all

https://www.tribunnews.com/nasional/2020/02/25/kepsek-bantah-kabar-kasus-77-siswa-dipaksa-makan-kotoran-manusia-bukan-dimakan-hanya-disentuhkan?page=2

https://manado.tribunnews.com/2020/02/25/kronologi-77-siswa-seminari-dipaksa-makan-kotoran-oleh-pendamping-kami-pasrah-tak-bisa-melawan

Sumber gambar:

https://regional.inews.id/berita/kpai-mengutuk-aksi-keji-yang-dialami-77-siswa-ntt-makan-kotoran-manusia

https://surabayastory.com/2019/05/20/berkawan-dan-mengendalikan-emosi/

Maulia Nur Adrianisah

Saya seorang wanita yg bangga memiliki profesi utama menjadi ibu rumah tangga. Juga seorang istri dari sesosok laki-laki yg senang mengajar dan menulis. Namun lebih terlihat cahayanya ketika menulis, lalu tanpa disadari saya pun mengikuti jejaknya. Semoga apapun yg kami tuliskan, bermanfaat bagi banyak orang, khususnya kami sendiri sebagai manusia yg masih perlu banyak belajar.
Follow Me:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *