Mommies Info Mommies News Parenting

Booming! Film Joker Ternyata Bukan untuk Anak-Anak

Hai Mommies..

Masyarakat kini sedang trend untuk mengupload tiket nonton bioskop film yang sedang tayang dan booming pekan ini yaitu film “Joker”. Selain mengupload foto tiket bioskop mereka, banyak juga yang mengunggah foto sedang berada di bioskop dengan latar belakang poster film Joker. Bahkan beberapa ada yang mereview dari hasil apa yang mereka tonton.

Tapi, tahukah Mommies bahwa film Joker ini memiliki rating “R”. Lembaga Sensor Film (LSF) menjelaskan bahwa film yang memiliki rating “R”  adalah film yang seharusnya ditonton oleh orang yang berusia 17 tahun ke atas.

Film Joker mendapatkan rating “R” karena di dalam film tersebut terdapat adegan kekerasan, gambar porno, orang merokok, kerusuhan, penganiayaan dan pembunuhan. Adegan-adegan tersebut tentu tidak patut ditonton oleh anak-anak.

Tokoh Joker yang selama ini dikaitkan dengan superhero Batman yang diidolakan oleh anak-anak membuat banyak orang mengira bahwa film ini bercerita tentang superhero. Sehingga banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka menonton film ini. Tapi pada kenyataannya film ini sama sekali tidak menceritakan aksi heroik seorang superhero. Tokoh Batman pun tidak muncul dalam film ini.

Mengajak anak menonton film yang berisikan tentang adegan kekerasan seperti film Joker ini, ternyata dapat memberikan dampak pada perilaku anak lho Mommies.  Inilah dampak pada anak jika menonton film yang di dalamnya terdapat adegan kekerasan.

  1. Menimbulkan Trauma

Adegan-adegan kekerasan yang ditonton oleh anak secara tidak langsung dapat menimbulkan trauma pada dirinya. Sesuai dengan teori kognitif Piaget, anak-anak yang berusia sekitar 7 sampai 11 tahun masih dalam tahap berpikir operasional konkret. Mereka belum mampu memahami lebih dalam alasan dari sebuah perilaku. Mereka hanya mampu memahami perilaku nyata dari apa yang mereka lihat. Sehingga bisa jadi anak hanya terfokus pada adegan-adegan yang ada dalam film. Penyerapan adegan kekerasan tanpa adanya penjelasan yang membuat mereka paham secara tidak langsung dapat menimbulkan jejak trauma pada ingatan mereka. Biasanya dampak dari trauma tersebut dapat melalui mimpi buruk, ketakutan dan kecemasan.

  1. Menirukan Perilaku Kekerasan

Pemaparan tayangan kekerasan pada anak juga dapat mempengaruhi perilaku mereka untuk me-modelling adegan-adegan tersebut. Karena pada anak yang masih dalam tahap berpikir operasional konkret belum memegang prinsip pada perilaku mereka. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Albert Bandura mengenai anak yang diberi tayangan kekerasan yang menunjukkan hasil bahwa mereka meniru perilaku kekerasan seperti apa yang mereka lihat.

Seram ya Mommies ternyata dampaknya? Lantas bagaimana jika anak kita terlanjur menonton film-film kekerasan yang tidak sesuai dengan kriteria usianya?

Jika anak terlanjur menonton film semacam Joker, maka amatilah apakah terdapat perubahan perilaku pada anak. Jika perubahan perilaku tersebut menetap selama enam bulan maka Anda wajib membawanya ke Psikolog untuk berkonsultasi. Perubahan perilaku yang mungkin tarjadi seperti anak lebih diam, emosional dan menunjukkan perilaku agresi.

Sebelum dampak itu terjadi pada anak, Anda juga dapat berdiskusi dengan anak mengenai perilaku-perilaku tokoh yang ada dalam film tersebut. Sehingga anak memahami alasan dari sebuah perilaku dan mengetahui antara perilaku yang baik dan perilaku yang tidak patut untuk ditiru.

Semoga untuk kedepannya kita dapat memberikan tayangan yang sesuai usia anak kita ya Mommies.

Sumber :

Sumber Gambar :

Ayu Putri

Seorang ibu rumah tangga yang berusaha menjadi bermanfaat untuk sesama.
Follow Me:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *