Mommies Info Mommies News

Berantas Covid-19: Hilangkan Stigma Pada Masa Pandemi

Covid-19 sampai saat ini masih belum bosan menjajah negeri ini. Kita pun masih berjuang untuk sebisa mungkin menghindari dan menghilangkan virus tersebut. Namun siapa sangka, telah beredar dalam media sosial bahwa ada beberapa orang yang entah sadar ataupun tidak, memberikan stigma kepada masyarakat lain karena pekerjaannya dalam menyembuhkan pasien dengan Covid-19 atau jika ada salah satu diantara mereka yang terkena virus tersebut. Seperti pada cuitan di twitter dari Sofie bahwa beberapa perawat dan keluarganya menjadi sasaran stigmatisasi masyarakat. Cuitan tersebut dibenarkan oleh Putri dalam akun twitternya bahwa kakaknya adalah perawat yang menjadi bahan gosip oleh ibu-ibu. Bahkan anak -anak mereka mengatainya “Corona” saat lewat di depan rumahmya.

Bagaimana menurut mommies?

Ketika para tenaga medis sedang berjuang menyelamatkan mereka yang terkena virus, tetangga mereka justru menggosipkan buruk diri mereka hingga anak-anakpun mengikutinya. Jika kita berada diposisi mereka, apakah kita ingin mendengar dan diperlakukan sedemikian rupa? Tentu saja tidak bukan. Secara tidak sadar, para tenaga kesehatan tersebut terkena stigma dari masyarakat.

Secara singkat stigma menurut KBBI adalah ciri negatif yang menempel pada diri seseorang karena pengaruh lingkungannya. Hal ini sama dengan labeling pada psikologi. Labeling atau pemberian cap merupakan identitas yang diberikan oleh lingkungan berdasarkan ciri sosial yang dimiliki, seperti ciri fisik yang menonjol, penyakit
menetap yang diderita, karakter, orientasi seksual, ciri kolektif ras, etnik dan golongan yang didapatkan dari interaksi sosialnya (Khoisiyah, 2014). Labeling bukan karena seseorang itu memiliki pekerjaan atau sikap yang negatif, tetapi justru anggapan dari masyarakatlah yang membuatnya buruk. Tanpa disadari, labeling akan membuat seseorang yang menjadi sasaran tertekan atau stress. Akibatnya, daya imunitas tubuhnya akan menurun sehingga dia akan betul-betul rentan terhadap penyakit. Sama seperti ketika orang tua yang melabel anaknya bahwa dia nakal, maka anak akan merasa bingung, putus asa hingga merasa stress. Pada akhirnya, dia akan menjadi betul-betul nakal seperti yang dikatakan orang tuanya.

Mari, hindari dan hilangkan stigma kepada siapa saja yang sedang bersentuhan dengan covid-19 saat ini. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu:

1. Berempati
Mencoba untuk memahami posisi orang lain. Banyak tenaga kesehatan yang rela tidak bertemu dengan anggota hanya karena takut barangkali mereka membawa virus itu ketika sampai di rumah. Pada akhirnya, mereka pun melindungi tetangga mereka, masyarakat sekitarnya. Karena jika keluarga mereka bersentuhan dengan orang lain, ada kekhawatiran pula bahwa keluarga mereka juga membawa virus tersebut. Bukankah mereka sangat peduli dengan keadaan kita?

2. Penerimaan tanpa syarat.
Adalah menerima seseorang meskipun pikiran dan sikapnya kurang baik menurut kita. Dalam kasus orang-orang yang berkaitan dengan musibah virus ini, menerima kepulangan para tenaga kesehatan di lingkungannya atau menerima jenazah para pasien dengan Covid-19 dengan perasaan positif atau tanpa perasaan apapun. Kita menerima bukan berarti kita tidak khawatir. Tetapi percayalah, bahwa mereka sudah berbuat yang terbaik agar virus tidak terbawa pulang ke lingkungan rumahnya. Banyak video di media sosial yang menampilkan betapa hati-hatinya para tenaga kesehatan dalam menjaga dirinya sendiri agar terhindar dari virus. Begitu juga dengan jenazah dengan covid-19. Pihak rumah sakit pasti telah memperlakukan mereka sebaik mungkin agar dalam proses pemakamannya, para pelayat tidak ikut terdampak oleh virus tersebut.

3. Beri dukungan
Pahami kondisinya dan berikan semangat bahwa semua akan baik-baik saja. Baik dari grup media sosial ataupun secara langsung. Minimal, memberikan perhatian ketika kita paham mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Ajaklah mereka untuk menjaga kesehatan, mengirimkan buah, atau menyemangati mereka.

Meskipun Covid-19 bisa dianggap berbahaya karena sudah menelan banyak korban tanpa pandang bulu, namun stigma kita kepada mereka lebih berbahaya lagi. Tidak ada obat dari stigma kecuali kita sendiri yang mengendalikannya.

Sumber bacaan:

https://mobile.twitter.com/sofiesyarief/status/1241722484992303114

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/stigma

https://dosenpsikologi.com/teori-labeling-dalam-psikologi

Khoisiyah, N. H. (2014). Gambaran Respon Psikologis Remaja Yang Mendapat Labeling Di SMK Perdana Kota Semarang. Fikkes-Jurnal Keperawatan. 7(2). 162 – 175

https://dosenpsikologi.com/teori-labeling-dalam-psikologi

Sumber gambar:

https://www.researchgate.net/figure/A-visual-representation-of-stigma-domains-and-their-respective-themes_fig2_317143770

https://mobile.twitter.com/sofiesyarief/status/1241722484992303114

Maulia Nur Adrianisah

Saya seorang wanita yg bangga memiliki profesi utama menjadi ibu rumah tangga. Juga seorang istri dari sesosok laki-laki yg senang mengajar dan menulis. Namun lebih terlihat cahayanya ketika menulis, lalu tanpa disadari saya pun mengikuti jejaknya. Semoga apapun yg kami tuliskan, bermanfaat bagi banyak orang, khususnya kami sendiri sebagai manusia yg masih perlu banyak belajar.
Follow Me:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *