Ibu & Anak Mommies Daily Mommies Info Parenting

Andien Aisyah Akan Terbitkan Buku, Kolaborasi dengan Ahli Inner Child, Berikut Tips Memutus Rantai Luka Pengasuhan

Dalam sebuah video yang diunggah web penerbit Bentang Pustaka (7/10/19), Andien Aisyah mengaku bahwa proses menerbitkan buku terasa seperti melahirkan. Jika dulu melahirkan seorang anak atau album musik, sebentar lagi akan melahirkan sebuah karya berupa cerita personal dalam bentuk buku. Kabarnya nih Mommies, Andien akan menerbitkan buku berjudul Belahan Jantungku pada November 2019 mendatang. Buku Belahan Jantungku menceritakan tentang pengalaman Andien sebagai seorang perempuan dan seorang ibu. Menurut Andien, buku tersebut bukanlah sebuah panduan how-to, melainkan tentang perjalanan yang menjadi dasar dari berbagai keputusan yang Andien dan suami ambil serta jalani.

Di buku itu terdapat kolaborasi dengan para ahli di dalam bidang kesehatan anak, inner child, dan juga gentle birth untuk berbagi inspirasi juga dalam dialog dan tulisan. Perlu Mommies ketahui, beberapa di antaranya para ahli itu adalah dr. Ratih Ayu Wulandari, Coach Yusa Aziz dan Reza Gunawan. Coach Yusa Aziz adalah praktisi psikoterapi, konseling, dan coaching yang telah berpengalaman selama 15 tahun.  Terdapat sebuah artikel dari situs web penerbit Bentang Pustaka yang membagikan tulisan karya Coach Yusa Aziz tentang memahami inner child dan masih berhubungan dengan buku Belahan Jantungku.

Mommies, apakah sudah mengetahui tentang inner child? Menurut psikolog, Gita Aulia, M.Psi, inner child adalah bagian dalam diri seseorang yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu terutama terkait tentang pola asuh. Inner child bisa jadi ada yang positif dan negatif. Inner child negatif seperti sosok anak kecil yang menyimpan memori serta emosi negatif. Inner child tersebut bisa menjadi luka pengasuhan masa lalu.

Inner child

Inner child – sosok anak kecil dalam diri orang dewasa

Inner child diibaratkan seperti seorang dewasa yang hidup dengan membawa ransel berisi pola pengasuhan dari masa kecilnya, isinya tentu mempengaruhi pemiliknya. Jika terdapat luka pengasuhan di masa lalu, tentu terbawa saat dewasa seusia Mommies. Misalnya orang dewasa yang penuh amarah, dingin, kaku, kemungkinan saja saat masa kanaknya kurang mendapatkan supai cinta, jarang dipeluk, disentuh, diapresiasi atau bahkan mendapat kekerasan mental, verbal hingga fisik. Hal tersebut tentu mencederai jiwa dan bahayanya bisa dilanjutkan melakukan perilaku sama kepada anak nantinya.

Lalu bagaimana caranya supaya pengasuhan yang membawa luka tidak berlanjut turun temurun? Berikut tipsnya untuk Mommies memutus mata rantai luka pengasuhan:

1. Sadari
Menyadari merupakan langkah awal yang baik. Mommies perlu menyadari saat ada respon diri yang error atau tidak semestinya saat ada stimulus dari suami atau anak. Bisa jadi disebabkan karena ada luka pengasuhan masa lalu. Normalnya seorang dewasa, jika mengalami suatu hal adalah mengambil jeda sejenak, berpikir jernih untuk memilih respon terbaik yang akan dilakukan.

2. Petakan
Mommies perlu memetakan peristiwa masa lalu apa yang membawa luka hingga hari ini? Mommies perlu menggali memori ke masa lalu. Mungkin saja terasa sakit dan menyesakkan tapi tahapan ini perlu dilalui sebagai bagian penyembuhan. Jika menemukan peristiwanya, tuliskan kemudian rasakan.

3. Terima
Setelah Mommies memetakan, pahami bahwa itu sudah terjadi di masa lalu. Terima perasaan tersebut sambil menguasai diri dengan kesadaran penuh saat bernapas. Terimalah kejadian itu dengan sudut pandang lebih tinggi yaitu sebagai perjalanan hidup takdir Allah, pasti ada hikmahnya. Misalnya: Allah akan menjadikan Mommies lebih kuat dan kelak tidak mengulangi cara yang sama pada anak karena paham dampaknya.

Memaafkan bagian dari menyembuhkan inner child

4. Maafkan
Setiap peristiwa dalam hidup Mommies pasti ada keterlibatan orang lain, terutama orang tua, maka selain menerima, Mommies juga perlu memaafkannya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa memaafkan itu sulit tapi justru saat tidak memaafkan semakin menyiksa diri. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu tapi Mommies perlu melakukan hal baru agar sembuh dari luka pengasuhan dengan memaafkan untuk berdamai menikmati masa kini. Mommies perlu mengambil prasangka baik bahwa kemungkinan orang tua memiliki keilmuan terbatas, melalukannya tidak sengaja atau ada tantangan hidup besar yang sedang dihadapi saat itu hingga menorehkan luka. Jika luka pengasuhan diibaratkan luka karena tusukan pisau, semakin dibiarkan maka luka itu menjadi bagian dari diri yang penuh infeksi. Maka perlu melepaskan tusukan pisau dengan melepaskan pikiran, tindakan atau persepsi yang membuat luka, kemudian mengeluarkan infeksinya dengan tidak mengingat luka itu (ubah persepsi) kemudian obati luka dengan memaafkan. Memaafkan akan menjadi penutup luka yang ampuh.

Dalam proses memutus mata rantai pengasuhan yang penuh luka, tidak bisa secara instan. Mommies butuh membangun kebiasaan sehat (secara emosi) dengan terus menerus supaya menyembuhkan luka pengasuhan. Jika dirasa perlu bantuan karena mengalami trauma yang mendalam, tentu perlu menghubungi tenaga profesional.

Sumber:
https://www.gramedia.com/blog/belahan-jantungku-andien-aisyah/amp/
– Channel Youtube Mommiesharing InnerChild – Jangan Renggut Masa Kecilku.
– Almeera, Febrianti. 2018. Saatnya Ibu Menjadi Ibu. Bandung. Strong From Home Publishing
– Workshop terapi pemaafaan bersama Asep Haerul Gani.

Sumber ilustrasi:
– gramedia.com
– kompasiana.com
– idntimes.com

April Fatmasari

Seorang istri sekaligus ibu rumah tangga yang masih belajar memaknai universitas kehidupan dengan tulisan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *