Waspadai 8 Alasan Perceraian Agar Angka Perceraian di Indonesia 2019 Tidak Meningkat

Angka perceraian di Indonesia 2019 tergolong cukup tinggi. Pada tahun 2015 yang bersumber dari Kementerian Agama (Kemenag) mencapai 398.245 gugatan dan meningkat sebanyak 415.898 gugatan pada tahun 2017. Sangat miris kan mommies?

 

Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, terlepas dari apapun agama kita. Hanya saja banyaknya kasus perceraian di Indonesia membuktikan bahwa harus ada sesuatu yang diperbaiki agar kesakralan pernikahan tersebut terus terjaga.

 

Tingginya angka perceraian di Indonesia 2019 membuat para pejabat pemerintah yang berwenang memutar otak untuk menekannya. Salah satu program yang dimiliki oleh Kemenag yaitu program bimbingan pra nikah. Program tersebut akan memberikan bekal pemahaman yang lebih matang bagi calon suami-istri tentang kehidupan berumahtangga.

 

Harapannya program bimbingan tersebut menjadikan pernikahan lebih harmonis dan terhindar dari perceraian. Menurut Anda apa saja penyebab perceraian yang sering terjadi? Nah, berikut beberapa penyebab yang sering menjadi alasan perceraian terjadi.

1. Menikah secara terburu-buru

Pernikahan bukan ajang lomba dimana siapa yang duluan menikah adalah pemenangnya. Sayangnya, ada rasa ingin segera menikah yang kadang diakibatkan dari orang di sekitar. Apalagi di Indonesia memiliki kebiasaan untuk bertanya tentang pernikahan dan hal-hal sensitif lainnya ketika sedang berkumpul bersama, misal ketika hari raya.

Menikah secara terburu-buru merupakan penyebab angka perceraian di Indonesia 2019 menjadi tinggi. Menikah seharusnya memerlukan kesiapan yang matang, baik segi materi maupun psikologi calon pasangan.

 

2. Kehilangan identitas diri

Begitu pernikahan terjadi, kehidupan akan berubah tidak seperti ketika masih single. Kadangkala suami/istri terlalu bergantung pada pasangan dan ingin selalu melakukan sesuatu berdua. Hal tersebut dapat menyebabkan Anda kesulitan untuk menjadi diri Anda sendiri.

 

3. Terlalu sibuk menjadi orangtua

Penyebab yang satu ini merupakan dilema banyak orang. Peran sebagai orangtua terutama orangtua baru tentu membuat fokus Anda akan lebih terforsir untuk anak sehingga dapat membuat pasangan merasa terabaikan. Bahkan ketika sudah bertambah jumlah anak bisa jadi Anda semakin sibuk dan lupa untuk memerhatikan pasangan yang tentunya bisa jadi pemicu keretakan hubungan pernikahan.

 

4. Visi, minat dan kesibukan yang berbeda

Visi yang berbeda biasanya sulit untuk ditolerir karena berhubungan dengan prinsip atau impian seseorang. Bisa jadi suami Anda ingin mengejar karier dulu, sementara Anda sebagai istri ingin segera memiliki anak. Tentunya hal tersebut bisa menjadi bumerang yang akan mengganggu pernikahan apabila tidak segera diselesaikan.

Mengenai minat dan kesibukan yang berbeda sebenarnya wajar saja, bahkan dapat menjadi me time yang menyenangkan. Tetapi Anda tidak boleh lupa untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat dinikmati bersama-sama.

 

5. Kehidupan seks bermasalah dan kurangnya romantisme

Bagaimana rasanya melakukan hubungan hanya sebagai formalitas saja mommies? Tentu sangat menyesakkan. Penyebab yang satu ini bisa mendorong ketidakpuasan yang mendalam bagi pasangan menikah dan berlanjut mengakibatkan meningkatnya angka perceraian di Indonesia 2019. 

Biasanya, kehidupan seks dapat bermasalah apabila ada hal yang tidak dibicarakan dengan pasangan. Padahal sebagai pasangan suami-istri kita memiliki kewajiban untuk saling terbuka, agar kehidupan pernikahan berjalan harmonis dan bahagia.

 

6. Harapan yang tidak terpenuhi

Harapan tidak terpenuhi

Penyebab yang satu ini sebenarnya dikarenakan oleh diri sendiri. Setiap orang wajar saja memiliki harapan misalnya ingin suami terus romantis, hanya saja ketika Anda meninggikan harapan tetapi tidak dibicarakan atau membuat langkah penyelesaian bisa jadi yang didapatkan adalah kecewa. 

 

7. Keuangan bermasalah

Keuangan adalah hal yang sensitif sehingga banyak menjadi penyebab seseorang ingin bercerai. Permasalahan dalam keuangan ini tidak hanya karena soal kekurangan uang saja, bisa jadi terdapat ketidakcocokan pengelolaan keuangan, atau kurang terbuka masalah keuangan. 

 

8. Perbedaan gaya hidup

Rumah tangga yang harmonis juga ditentukan oleh gaya hidup. Gaya hidup cenderung bersifat fleksibel, sehingga kadang pasangan Anda yang dulunya tidak suka hidup glamor tiba-tiba bisa sangat menyukai kehidupan yang glamor. 

Perbedaan gaya hidup tersebut sebaiknya dibicarakan sambil bertatap mata karena menyangkut banyak hal dalam kehidupan rumah tangga, baik dari segi materi maupun keseharian yang tentu mengalami perubahan.

 

Kira-kira 8 alasan tersebut ada yang sedang Anda rasakan mommies? Jika iya, maka sebaiknya segera dibicarakan ya. Menghubungi pihak ketiga misal konselor pernikahan juga suatu solusi yang baik agar kehidupan rumah tangga tetap harmonis dan angka perceraian di Indonesia 2019 tidak meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Sumber :

 

Sumber gambar :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *