Cetak Generasi Hebat dengan Menguasai Pola Asuh yang Tepat Sesuai Tahap Perkembangan

Di era saat ini semakin banyak perilaku para anak dan remaja millenial yang sering membuat orang tua banyak yang tercengang. Berbagai macam kasus permasalahan muncul di pemberitaan. Beberapa kasus kenakalan remaja yang terjadi baru-baru ini diantaranya yaitu kasus bullying dan penganiayaan Audrey, beredarnya video mesum siswa SMK di Tuban, siswi SMA di Gresik membuang bayinya di selokan karena hamil di luar nikah, kasus pelajar yang terjerat narkoba dan ikut dalam pengereroyokan dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya.

 

Kita sebagai orang tua selalu berharap bahwa anak-anak kita akan tumbuh menjadi anak-anak yang berprestasi dan tidak terlibat dalam hal yang dapat mencemarkan nama baik keluarga. Namun, salah satu faktor dari menyimpangnya perilaku anak ternyata dapat dipicu dari pola asuh orang tua yang kurang tepat. Kepribadian anak ke depannya, salah satunya dipengaruhi oleh perlakuan orang tua kepadanya.

Untuk memberikan pola asuh yang tepat kepada anak, salah satunya dapat ditempuh dengan mengetahui fase-fase penting pada tahap perkembangan anak. Menurut teori perkembangan rentang kehidupan (life span) psikososial Erik Erikson, terdapat  5 tahapan yang dilalui oleh bayi hingga remaja. Setiap tahap perkembangannya, individu akan mengalami sebuah fase krisis pada hidupnya. Semakin sukses seseorang melalui krisis tersebut maka semakin sehat pula psikis orang tersebut (Santrock, 2011). Tahap perkembangan manusia menurut Erik Erikson adalah sebagai berikut:

 

  1. Trust vs  Mistrust ( Bayi 0 – 2 tahun)

 

Tahap paling awal pada kehidupan anak ialah membangun rasa percaya terhadap lingkungan sekitarnya. Tugas orang tua ialah memberikan rasa aman dan menumbuhkan harapan anak pada lingkungannya. Orang tua dapat memberikan rasa aman dengan memberikan respon positif dari kebutuhan-kebutuhan anak dan tidak mengabaikannya. Terutama kebutuhan akan kepuasan oral dengan menyusu. Apabila anak gagal menumbuhkan rasa percayanya kepada lingkungan maka anak akan tumbuh menjadi anak yang paranoid (penuh curiga, agresif dan skeptis pada kebaikan. Sedangkan apabila kepuasan pada tahap oral tidak terpenuhi anak akan cenderung memiliki perilaku oral agression (merokok, berbohong, rakus, dsb) pada saat remaja.

 

  1. Autonomy vs Shame (18 bulan – 4 tahun)

 

Tahap ini terjadi pada tahap bayi akhir atau biasanya ketika anak mulai berjalan. Pada tahap ini anak mulai menyadari bahwa ia memiliki independensi atau kehendak dalam perilakunya sendiri. Mereka mulai mengekspresikan keinginannya melalui makanan atau mainan kesukaannya. Pada tahap ini tugas orang tua melatih anak untuk toilet training. Selain itu orang tua juga tidak perlu terlalu membatasi atau menghukum terlalu keras pada anak. Karena hal tersebut akan menyebabkan rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan pada anak. Sehingga ketika remaja anak akan tumbuh menjadi seseorang yang terlalu perfeksionis atau bahkan selalu menghindar dari tugas-tugas mereka.

 

  1. Initiative vs Guilt ( 3,5 – 7 tahun)

 

Pada tahap ini anak akan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas dari tahapan perkembangan sebelumnya. Hal ini menyebabkan anak menghadapi tantangan yang lebih berat dari sebelumnya. Karena interaksinya dengan lebih banyak orang biasanya anak akan mendapatkan harapan – harapan dari orang lain seperti harus berperilaku baik dan tidak berperilaku buruk. Hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak atau malah bisa menjadi dilema pada dirinya. Sebagai orang tua tugas kita ialah mengarahkan anak kita untuk memiliki inisiatif dalam berperilaku baik. Serta tidak menuntut atau memarahi secara berlebihan ketika anak menunjukkan perilaku yang kurang baik. Menuntut dan memarahi anak secara berlebihan akan menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan pada anak. Jika hal itu terjadi maka anak alan tumbuh dengan rasa bersalah yang tinggi, tidak menyukai kompetisi dan cenderung melanggar aturan.

 

  1. Industry vs Inveriority ( 6 – 14 tahun)

 

Tahap perkembangan ini dilalui ketika anak-anak memasuki  masa sekolah. Pada tahap ini anak akan menggunakan banyak energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan intelektual. Perilaku kekanak-kanakan yang tidak terkontrol mulai dipendam pada tahap ini. Sebagai orang tua tugas kita adalah mendukung anak untuk mengeksplorasi kepampuannya untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya. Sehingga anak merasa mampu dan memiliki kemampuan pada dirinya sehingga memiliki harga diri yang tinggi. Apabila tahap ini tidak dapat dilalui dengan baik maka anak akan memiliki harga diri yang rendah dan pada saat remaja akan sulit mengambil keputusan dan memiliki kecenderungan agresi dalam menghadapi menang atau kalah.

 

  1. Identity vs Role Confusion ( 13 – 21 tahun)

 

Tahap ini terjadi pada saat anak memasuki masa remaja. Pada saat remaja lingkungan interksinya jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Pada tahap ini remaja akan berusaha mngeksplorasi berbagai cara untuk menemukan jati dirinya. Orang yang paling membuat mereka nyaman dan sangat berpengaruh adalah teman. Konsekuensinya anak akan lebih mendengarkan teman dalam membuat keputusan. Hal yang harus dilakukan orang tua ialah dapat berperan menjadi teman yang baik untuk anak agar orang tua tetap menjadi rujukan anak dalam mengambil keputusan. Namun, orang tua juga harus tetap memberikan kesempatan anak untuk mengeksploari kemampuannya secara mandiri. Apabila anak gagal dalam mengeksplorasi kepampuannya dan tidak mampu menemukan jati dirinya maka anak akan tumbuh sebagai remaja yang insecure dan mungkin juga anak dapat melakukan perilaku yang tidak terduga tanpa memikirkan resiko yang akan dia terima.

 

Berdasarkan teori perkembangan tersebut dapat diketahui bahwa perilaku menyimpang sesunggahnya dapat berasal dari adanya permasalahan dari tugas perkembangan yang dilalui oleh seorang anak. Setelah mengetahui teori tersebut kita dapat  memutuskan pola pengasuhan mana yang sesuai dengan tahap perkembangan anak kita. Sehingga dapat meminimalisir munculnya perilaku menyimpang pada anak suatu saat nanti. Serta dapat mencetak generasi yang hebat dan berprestasi tanpa mengikuti arus pergaulan yang melanggar norma yang berlaku.

 

Sumber :

  • Algristian, Hafid (2019). Pola Pengasuhan dan Deteksi Tumbuh Kembang terhadap Anak. Talk Show Surabaya Babywearers. Surabaya. 13 Oktober 2019.
  • Santrock, J.W. (2011).  Psikologi Pendidikan : Edisi Kedua. Jakarta. Kencana.

Sumber Gambar:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *